Cerpen Ade Ubaidil (Rakyat Sultra, 27 Desember 2018)

Percakapan di Pesisir ilustrasi Rakyat Sultraw
Percakapan di Pesisir ilustrasi Rakyat Sultra

SEMAKIN banyak orang mengutip ucapanmu, itu menandakan bahwa kau sudah terkenal!”

“Berhenti menggodaku.”

“Aku serius!”

“Aku juga serius!”

Kau tahu? Ketika dua orang tengah berbincang dan melontarkan kalimat dengan nada kencang, yang terjadi di detik selanjutnya adalah saling diam. Membungkam. Rumah-rumah warga kampung ditelan malam. Laut tampak hitam, legam. Dua orang yang duduk bersisian itu tak saling pandang. Lebih tepatnya mereka mulai tak saling peduli. Kalau pun ada seseorang di tengah laut yang tenggelam atau kapal yang karam, mereka pasti tak akan menggeser posisi duduknya barang satu depa. Sungguh suram. Sungguh runyam.

Ketika jam kantor usai, mereka berjanji bertemu di pesisir pantai kota C. Pantai yang terkenal dengan panorama alamnya. Biasanya mereka menghabiskan waktu untuk memuaskan matanya menikmati mentari terbenam (bermaksud menghindari kata asing: baca, sunset). Tetapi sore itu berbeda. Ada yang harus diselesaikan, kata lelaki yang masih mengenakan dasi. Orang yang ada di sebelahnya bersetuju. Jadi, dari dua tempat bekerja yang berbeda, mereka bertemu di sana.

Baca juga: Balada Penyair – Cerpen Ade Ubaidil (Pikiran Rakyat, 03 Juni 2018)

“Sampai kapan kita harus menjalani ini?”

“Sampai laut mengering.”

“Konyol.”

“Sama konyolnya dengan pertanyaanmu.”

Mereka kembali membisu. Jutaan kata-kata seolah telah habis mereka ucapkan. Burung-burung saling mengepak menyeberangi lautan. Mereka kembali pulang menemui keluarganya di sarangnya masing-masing. Penjaja makanan di sepanjang bibir pantai berbenah. Merapikan barang dagangan yang hari itu tak disentuh barang secuil oleh pengunjung. Satu per satu jiwa manusia di lingkup pantai menyublim. Perlahan menjauh, benar-benar jauh, hingga seolah tak akan kembali lagi sebab langkahnya sudah teramat jauh.

Advertisements