Cerpen K.Y. Karnanta (Jawa Pos, 23 Desember 2018)

Secangkir Glühwein untuk Darda’il ilustrasi Budiono - Jawa Posw.jpg
Secangkir Glühwein untuk Darda’il ilustrasi Budiono/Jawa Pos

DI saat gerimis menggaris tipis, dan tebal kabut begitu akut, aku melamunkan burung möwe, krähe, atau taube, dan segala jenis burung yang biasa berkitar liar di sekitar pantai dan teluk di sini, pastilah sedang mendekam dengan bulu terkembang sembari saling bercumbu dengan pasangan masing-masing. Dalam cuaca dingin di mana api unggun hanya sebatas rencana yang gagal, dan selimut tebal tak bisa menahan gigil yang bebal, bergumul bisa menjadi pilihan terbaik selain menenggak anggur ditemani cerutu sampai jatuh dan tersungkur.

Tapi, sungguh, aku tak paham dengan tingkah gadis asing yang sedang duduk sambil terpingkal-pingkal di depanku ini. Tak pernah bertemu sebelumnya, tiba-tiba ia datang menghampiri sambil membawa dua gelas glühwein dan mengatakan akan mentraktirku malam ini. Ia juga menawarkan—lebih tepatnya melemparkan—cerutu ke arahku, yang jika dilihat dari jenisnya sulit untuk mengatakan dia tipe gadis yang hanya merokok di kala putus asa, atau sekadar coba-coba.

Kemudian, dia memperkenalkan diri bernama Helen, asli Jerman. Dengan alasan basa-basi paling basi sekalipun, sungguh, tak ingin aku merespons salam pekenalan darinya. Hanya sekilas kuperhatikan matanya saat ia bicara; mata yang lebar dengan pupil kebiruan. Alisnya cokelat muda tebal, sangat kontras dengan kulit wajahnya yang khas Eropa; putih terang dan nyaman dipandang. Dia mengenakan sweater wol rajut bermotif kereta santa, yang terlihat agak terlalu besar untuk tubuhnya. Rambutnya lurus sebahu, terbungkus penutup kepala warna merah muda…

Baca juga: Madah – Cerpen K.Y. Karnanta (Jawa Pos, 12 November 2017)

“Dari mana asalmu?” Aku tak bicara. Hanya menggeleng. Tatapannya teduh, namun mendalam seakan teluh hendak merelungi tubuhku. Lalu, dia berkata setengah tersenyum, “Cuaca dingin seperti ini kau bahkan tak memakai sehelai mantel pun? Sangat aneh.” Aku membalas senyumannya dengan tarikan napas panjang sambil mengangguk-angguk kecil setengah terpaksa. Jujur saja, aku tak suka jika ada yang mengganggu kegemaran sekaligus tugasku untuk bersendiri dan diam-diam mengamati.

Bagi banyak manusia, barangkali kegemaran dan tugas adalah dua hal berbeda. Hidup mereka pun selalu berada di antara gaya tarik-menarik antardua hal itu. Maka, perasaan lelah, ketidakadilan, bahkan kadang putus asa sama purbanya dengan usia dunia mereka. Tapi, tidak bagiku. Keduanya adalah sama. Kesendirian adalah momentum paling sempurna untuk bercakap-cakap dengan diri sendiri tentang apa saja, tanpa perlu malu, takut, atau gelisah pada suatu perasaan apa pun. Lain halnya manusia yang berinteraksi dengan rutinitas sehari-hari yang sering kali terlalu menuntut dan mutlak harus diturut.

Advertisements