Cerpen Ken Hanggara (Suara Merdeka, 23 Desember 2018)

Pohon Berbisik ilustrasi Suara Merdekaw.jpg
Pohon Berbisik ilustrasi Suara Merdeka

Pohon jambu di depan saya, di halaman rumah sahabat yang mati disembelih dua tahun lalu, seperti sedang mengajak bicara. Tentu saya tidak paham bahasa pohon, namun mengira ia berusaha bicara. Tentang apa, saya tidak tahu. Daun-daun jambu itu bergesekan seperti orang berbisik. Kalau benar apa dugaan saya, ia jelas membisiki saya sesuatu bernuansa purba dan ganjil. Sesuatu tentang kematian.

Mila, pacar saya, tidak terlalu percaya kata-kata itu. Padahal saya ceritakan sepenuh semangat bahwa saya merasa pohon jambu itu berbisik. Memang saya tidak bisa buktikan atau paling tidak menirukan ucapan pohon itu, tetapi saya yakin apa yang saya rasakan tidak salah.

“Kebanyakan melamun kamu,” celetuk Mila pendek.

Saya tidak bisa membela diri. Lagi pula, laki-laki—menurut Mila—adalah sumber kebohongan dan perempuan selalu benar. Saya tidak tahu apa semua perempuan di muka bumi berpikir demikian ataukah cuma segelintir kecil atau sebagian besar. Saya tak tahu jumlah tepatnya pendukung opini tersebut. Tapi yang pasti, Mila termasuk di dalamnya sehingga saya rasa percuma bercerita menggebu-gebu soal pohon jambu yang bisa berbisik. Toh, ia juga tidak bakal percaya. Ia hanya akan percaya pada hal-hal yang membikinnya bahagia.

Baca juga: Memburu Sekutu Iblis – Cerpen Ken Hanggara (Koran Tempo, 06-07 Oktober 2018)

Saya sebenarnya tidak mau cerita ke siapa-siapa soal pohon ajaib ini. Sering, setiap mampir ke rumah almarhum sahabat itu—sekadar mengirim puding cokelat kesukaan sang ibu yang kini sebatang kara dan membuat saya sangat iba—bila hendak pulang dan memakai sepatu di undakan teras, pohon itu seperti memandangi saya entah dengan cara apa.

Pohon memang tidak bermata, tetapi saya merasa ia mulai berkembang dari sekadar berbibir serupa manusia, meski sebatas untuk berbisik dan entah bagaimana pula bentuk bibir itu, hingga memiliki mata yang saya juga tidak tahu bagaimana bentuk dan di mana letaknya.

Advertisements