Cerpen Ayi Jufridar (Tribun Jabar, 23 Desember 2018)

Parut di Atas Alis ilustrasi Wahyudi Utomo - Tribun Jabarw.jpg
Parut di Atas Alis ilustrasi Wahyudi Utomo/Tribun Jabar

JAMB AN di perkebunan sawit itu tidak layak digunakan untuk buang air besar bahkan di daerah perang sekalipun. Dindingnya berupa daun kelapa kering yang dijalin dengan rapi tetapi tetap menyisakan lubang-lubang kecil di setiap sudut, membuat siapa pun tak nyaman berada di dalamnya karena waswas dengan mata yang mengintip. Lubang-lubang kecil itu sama gelapnva dengan bola mata.

Wajar saja Ester menolak buang air besar di sana. Apalagi kakusnya tanpa atap, ada orang di atas pohon kelapa bisa melihat sesosok manusia yang berjongkok. Diintip dari atas, bagi Ester, sama buruknya dengan diintip dari bawah.

Bukan hanya mata jahil yang membuat Ester terganggu. Dia sudah berada di dalam tadi meski sedetik kemudian buru-buru keluar sambil muntah-muntah. Aromanya merontokkan bulu hidung. Dia pernah menggunakan WC umum di sebuah terminal ketika meliput mudik, tahun lalu. Namun, aroma di dalam WC tersebut tak sampai mengaduk isi perutnya.

Baca juga: Belati di Dada Alya – Cerpen Ayi Jufridar (Tribun Jabar, 22 Januari 2017)

Ester hanya bisa berharap malam segera tiba. Pikirnya, kegelapan akan memberikan kenyamanan. Tapi waktu bergerak lambat ketika ada desakan membuang hajat tak tertahankan. Akhirnya ia mencari tempat lain. Barangkali di kawasan hutan ini ada jamban lebih bersih dibandingkan dengan jamban di rumah yang mereka tumpangi selama liputan.

Ditemani Agus, kameramennya, ia menyusuri jalan berbatu di perkampungan sawit. “Pelan-pelan,” perintahnya pada Agus yang duduk di belakang setir. Tanpa perintah pun, Agus sadar harus menjalankan mobil perlahan layaknya membawa orang hendak melahirkan. Setiap guncangan menjadi penderitaan tak tertahankan bagi Ester. Lebih dari itu, Agus khawatir jok belakang tiba-tiba berubah menjadi jamban.

Advertisements