Cerpen Faris Al Faisal (Pikiran Rakyat, 23 Desember 2018)

Mahar Puisi ilustrasi Ismail Kusmayadi - Pikiran Rakyatw.jpg
Mahar Puisi ilustrasi Ismail Kusmayadi/Pikiran Rakyat

KETIKA saya menikahi Bulan, sepucuk puisi saya bacakan. Semua orang yang hadir menitikkan air mata, sedih rupanya. Namun saya keliru, mereka menangis bukan karena puisi saya mengharukan, tetapi sebab saya seorang lelaki yang miskin.

“KUPIKIR penyair itu orang kaya, nyatanya untuk memberikan mahar kepada gadis secantik Bulan saja tak punya apa-apa. Hanya pakai puisi. Berapa harga sepotong puisi? Menyedihkan sekali!” Bisik-bisik keluarga Bulan dan tamu undangan yang hadir terdengar juga. Bergemuang bagai kumbang terperangkap di gendang telinga.

“Malang sekali Bulan,tubuhnya yang elok dihalalkan hanya dengan sebuah puisi.” Kembali suara kasak­kusuk itu meneror gendang telinga saya yang mulai jebol. Sakit sekali mendengarnya. Namun sesungguhnya, di hati jauh lebih sakit. Pedih.

Bagaimana bisa mereka menyebut penghalalan tubuh perempuan yang dinikahi karena mahar semata? Jika seperti itu, bisa jadi lelaki yang memiliki kekayaan untuk memberi mahar mahal akan dapat membeli tubuh perempuan sekehendak hatinya? Justru saya sangat menyayangkan nasib perempuan jika dinilai rendah seperti itu.

Baca juga: Paris, Saat Cinta Datang dan Pergi – Cerpen Faris Al Faisal (Rakyat Sumbar, 26-27 Mei 2018)

Apakah mereka tidak mendengar sebaik-baik perempuan adalah yang meringankan maharnya sebagai penanda tinggi ilmunya yang memudahkan sunah? Apakah mereka tidak membaca jika dulu Sayyidina Ali menikahi Fatimah hanya dengan baju Perang Huthamiyah miliknya? Di sinilah betapa mahar bukan persoalan yang harus diberat-beratkan ataupun diringan-ringankan. Dan satu hal yang luput dari pandangan yaitu mahar haruslah serida calon pengantin perempuan.

Dengan perasaan berlarat-larat karena dianggap melarat, saya pun melanjutkan ijab kabul dengan perasaan hampa seperti seorang astronaut tersesat di bulan yang tak berudara. Langkah saya seakan melayang tak berpijak menempati tempat duduk pengantin lelaki yang semula nyaman berubah tak kerasan. Sementara dari tempat duduk pengantin perempuan, Bulan menatap wajah saya yang layu batang pohon wibawa dan gugur daun kehormatannya. Namun senyumnya tak lepas dari bibirnya. Saya rasa Bulan tak mendengar gunjingan orang-orang pada calon suaminya yang baru saja memberikan mahar puisi padanya.

Advertisements