Cerpen Agus Salim (Media Indonesia, 23 Desember 2018)

Lelaki yang Menjelma Sinterklas ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesiaw.jpg
Lelaki yang Menjelma Sinterklas ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia

SEPASANG mata Alira tertuju pada tong sampah yang teronggok dekat pintu pagar. Berharap dari sana muncul jin yang biasa mengabulkan tiga permintaan. Kepada jin itu, Alira ingin menyampaikan dua permintaan. Pertama, dia ingin seseorang yang sangat dia rindukan datang ke rumahnya. Kedua, dia ingin seseorang itu lalu menetap selamanya di rumahnya.

Jin itu mungkin tidak akan pernah muncul. Tapi, dia tidak mau berhenti berharap.

Di luar pagar, dunia lain sedang memainkan perannya. Menampilkan kesibukan rutinitas seperti biasanya. Tak ada yang baru, hanya menciptakan kebisingan-kebisingan di udara. Namun, itu tak mampu mengusik Alira. Dia hanya mau peduli pada tong sampah.

Dulu, sekitar dua satu tahun yang lalu, satu hari sebelum Hari Raya Natal, dia pernah punya satu keinginan. Tong sampah yang sedang dipandanginya bisa menjadi sebab seseorang yang sangat dirindukannya datang ke rumahnya.

Baca juga: Jatah Air Mata – Cerpen Agus Salim (Haluan, 25 November 2018)

Rancangan peristiwa yang terlintas di benaknya waktu itu cukup sederhana. Alira membuang surat ke tong sampah, lalu petugas kebersihan kota (pasukan kuning) mengambil tong sampah dan memindahkan isinya ke gerobak sampah. Surat itu lantas jatuh sebelum sampai ke tempat pembuangan karena pembawa gerobak sampah ugal-ugalan waktu mendorong gerobak. Surat itu kemudian ditemukan seseorang yang dirindukan Alira, yang terenyuh membacanya sehingga terpanggil untuk mendatangi Alira yang sudah mencantumkan alamat rumahnya di dalam surat. Lalu, seseorang itu memutuskan untuk menetap di rumah Alira selama-lamanya karena merasa kasihan pada Alira. Sangat masuk akal, bukan? Tapi, waktu itu, akhirnya Alira tidak pernah membuat surat.

“Andai jin pengabul tiga permintaan itu muncul, pasti apa yang aku harapkan bisa terkabul,” suara batin Alira, memecah lamunannya sendiri.

Matanya masih belum mau berpindah ke tempat lain. Misalnya ke sudut halaman rumah, kepada pohon belimbing yang berbuah, dan sebagian buahnya jatuh membusuk di rerumputan, atau kepada bunga mawar atau melati yang tumbuh di sekitar belimbing. Tidak. Dia tidak suka pada semua itu. Dia lebih suka memandangi tong sampah.

Advertisements