Cerpen Faruqi Umar (Radar Banyuwangi, 23 Desember 2018)

Lelaki yang Dipasung ilustrasi Radar Banyuwangiw.jpg
Lelaki yang Dipasung ilustrasi Radar Banyuwangi

LELAKI itu bernama Sakur. Umurnya sekitar 50 tahun. Ia dipasung karena telah membunuh istri dan anaknya, lalu membakar rumahnya, begitu Wak Uje memulai ceritanya.

Sejak kecil aku suka mendengar cerita itu, meski sekaligus merasa ngeri. Kengerian itu, kadang merasuk dalam mimpi. Aku bermimpi dikejar lelaki yang dipasung itu. Aku berlari sekuat tenaga. Ketika pagi aku bangun tidur, ibu marah. Aku kencing lagi di kasur.

Setiap berangkat maupun pulang sekolah, aku pasti melewati gubuk tempat lelaki yang dipasung itu. Dinding gubuknya terbuat dari anyaman bambu yang dibelah. Dari celah dindingnya, aku dan teman-teman bisa melihat dengan jelas tubuh lelaki itu: hitam, dekil tak terurus, sepasang kakinya diapit dengan balok kayu yang dilubangi sebesar pergelangan kaki orang dewasa. Bau pesing kadang menguap ke hidung bila ada angin berembus.

Baca juga: Berkabung – Cerpen Faruqi Umar (Radar Banyuwangi, 07 Oktober 2018)

Lelaki itu tidak segan melempar apa saja yang ada di dekatnya, bila tahu ada yang mengintip. Setelah itu aku dan teman-teman lari kocar-kacir.

Masih untung lelaki itu hanya dipasung, lanjut Wak Uje. Setelah kejadian itu, warga menangkapnya. Orang-orang bahkan ingin menghabisi nyawanya.

“Seharusnya, aku tidak menghentikan amukan warga. Dan andai boleh memilih, mending tubuhku yang gosong dilahap api, daripada istri dan anaknya,” kata Wak Uje, matanya berkaca-kaca.

Wak Uje merupakan saksi mata kejadian mengerikan itu. Dan cerita Wak Uje bertahan sampai bertahun-tahun, menyebar dari mulut ke mulut. Sampai Wak Uje semakin tua dan pikun. Sampai ia sakit-sakitan dan meninggal. Dan selama bertahun-tahun pula, sampai aku lulus SMA, cerita itu masih bersemayam di ceruk kepalaku.

Advertisements