Cerpen Eka Dianta BR Perangin-Angin (Republika, 23 Desember 2018)

Kaki Sewarna Tanah ilustrasi Rendra Purnama - Republikaw.jpg
Kaki Sewarna Tanah ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Setelah sepuluh tahun merantau untuk kuliah dan bekerja, aku pulang hanya untuk mendapati kampungku telah menjadi tempat asing. Ia telah berubah menjelma sepotong metropolitan. Rumah-rumah reyot yang dulu tampak tak lebih dari tumpukan sampah itu berubah menjadi kompleks perumahan dalam waktu singkat, seolah disulap dalam satu kedipan mata. Tak kutemukan lagi pemandangan yang akrab di mata kanak-kanakku dulu: lapangan sepak bola yang selalu berlumpur kala hujan, jalan berbatu-batu, serta kawat-kawat jemuran yang saling silang di depan setiap rumah.

Dan, ketika tiba di rumah ayah, tahulah aku hanya lelaki tua itu yang kukuh mempertahankan rumahnya. Tak goyah walau ditawar dengan harga cukup lumayan. Lokasi rumah ayah berada di tepi jalan besar yang menjadi pintu masuk salah satu kompleks yang megah, berhadapan dengan gapura cantik penuh ukiran.

Sejak aku pulang, berbagai keluhan hinggap di telingaku. Tetangga-tetangga lama kami pindah entah kemana dan muncul pendatang baru yang sangat suka berceloteh. Sudah pasti, mereka benci ayah karena tak kunjung melepas rumahnya. Orang-orang menjadi senewen. Sikap toleransi telah terbang menguap. Olok-olok mereka, rumah ayah ibarat seberkas kurap di kulit yang putih mulus. Mereka takut terjangkit penyakit. Apalagi, usai melepas pekerjaannya sebagai kuli di pabrik semen setelah aku tamat kuliah, ayah beralih profesi sebagai pemulung. Berkarung-karung botol plastik atau barang-barang rombeng menumpuk di sekeliling rumah.

Baca juga: Rahsia Separuh Abad –  Cerpen Dian Nangin (Analisa, 04 November 2018)

Rumah ayah sama persis seperti kutinggal dulu. Ruang depan masih berlantai semen dengan dinding papan yang kini dihiasi tem pelan koran di beberapa tempat. Waktu telah menciptakan celah-celah di antara kepingan papannya yang meloloskan udara dingin kala malam hari. Sedangkan ruang da ur masih berlantai tanah—definisi sederhana yang sesungguhnya. Di pekarangan depan kami yang sempit berjejer pot-pot bunga dari kaleng cat bekas. Bunga-bunga yang tumbuh di dalamnya pun tak terurus. Sebagian terkulai lesu, sebagian lagi berebut tempat dengan gulma di wadah yang sempit itu.

“Ayo kita renovasi rumah ini, Yah,” usul ku suatu sore. Kami duduk berdua di kursi rotan nyaris lapuk di teras. Para tetangga yang melintas mencuri pandang dengan tatapan tak sedap. “Tabunganku sudah cukup banyak.”

“Tidak usah,” ayah menolak.

Advertisements