Cerpen Agus Salim (Kedaulatan Rakyat, 23 Desember 2018)

Boneka Sinterklas ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyatw.jpg
Boneka Sinterklas ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

SETELAH perpisahan diresmikan oleh ketuk palu hakim seminggu yang lalu, Mimisa segera membuat dunia baru untuk Nora. Dunia tanpa gambar lelaki yang pernah hidup di rumah itu. Lalu menggantinya dengan gambar lain: lukisan gunung, burung-burung, pohon-pohon dan ikan-ikan.

Kemarin, Sinta, sahabatnya, datang berkunjung, membawa beberapa pertanyaan dan satu nasihat. Mimisa jawab semuanya dengan keyakinannya.

“Seburuk apakah hubungan kalian sampai harus berpisah?”

“Sangat buruk dan aku tidak bisa merincinya.”

“Kau tahu keputusanmu itu menyakiti banyak hati, termasuk Nora?”

“Aku tahu. Tapi rasa sakit itu tidak abadi. Lambat laun pasti sembuh, dan menjadi kenangan. Untuk Nora, biar aku sendiri yang menyembuhkannya, sampai tuntas.”

“Kau tahu, Misa, seorang istri akan terus terikat oleh hukum suaminya selama suaminya itu hidup. Kau pasti sangat paham ajaran agama kita, kan?”

Baca juga: Lelaki yang Menjelma Sinterklas – Cerpen Agus Salim (Media Indonesia, 23 Desember 2018)

“Aku paham. Tapi, ajaran agama apa yang tidak bisa dilanggar manusia?”

“Lalu bagaimana dengan hari raya Natal nanti? Siapa yang akan jadi Sinterklas di rumah ini?”

“Aku akan beli boneka Sinterklas yang besar, sebagai ganti laki-laki itu. Dengan sedikit penjelasan, Nora pasti akan memahaminya. Toh dia masih belum paham, apa yang sebenarnya terjadi.”

Mimisa sudah membeli boneka Sinterklas itu, dan disembunyikannya di kamar tengah. Ia yakin, Nora pasti bahagia saat melihat boneka itu, meski itu bukan ayahnya.

Advertisements