Cerpen Fadiyatul Khaira (Rakyat Sumbar, 22-23 Desember 2018)

Viona ilustrasi Rakyat Sumbarw.jpg
Viona ilustrasi Rakyat Sumbar

SENJA datang menghampiri, tapi redupnya cahaya bumi tak membuat mereka berhenti bermain. Sejak pulang sekolah tadi, mereka bermain tanpa henti. Saat aroma gelap sudah benar-benar menghinggapi sang waktu, senja sudah menutupi langit, tiba-tiba teriakan hebat dari celah rimbunan bambu membuat Viona berhenti dalam hitungan petak umpat yang mereka mainkan.

Ia menolehke kiri dan kanan, tak ada satu pun yang ia dapati. Ia kemudian kembali menghitung. Suara gaduh kelelawar yang berterbangan mulai ganas. Membubarkan permainan petak umpat. Laras, Siska, Aliya dan Rahman bekumpul di salah satu pohon dekat lokasi mereka bermain.

“Huh.. aku benar-benar lelah, tapi ini akan tetap jadi mainan kesukaanku,” kata Rahma.

“Aku setuju! Gimana kalau besok kita main lagi?” sambung Laras.

“Boleh juga. Di sini juga lebih enak daripada tempat biasa,” tambah Siska.

“Besok kita jumpa lagi di sini,” ajak Aliya.

“Gimana, setujukan?” tanya Siska.

Baca juga: Perempuan, Tapi Bandel – Cerpen Siti Florensia Medeti (Rakyat Sumbar, 08-09 Desember 2018)

Semua menjawab serentak, “setuju!”

Viona tak ikut menyeru. Sedari tadi, sejak selesai main, ia tak berkata sepatah pun. Ia hanya duduk melamun, namun di benaknya ia tidak setuju dengan rencana teman-temannya.

Dalam kondisi itu, teman-temannya kemudian mengucapkan salam. Mereka bergegas dan seakan berlomba untuk segera pulang. Semua berlarian menuju rumah masing-masing. Viona, tidak. Ia masih berada di sana.

Viona menyandarkan punggungnya di sebuah pohon besar sembari terduduk. Wajahnya tampak pucat. Ada raut ketakutan, namun ia masih di sana. Tubuhnya semakin berkeringat. Keringat setelah bermain dan keringat dingin menyatu.

Advertisements