Cerpen Artie Ahmad (Kedaulatan Rakyat, 16 Desember 2018)

Warung Yu Supi ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyatw
Warung Yu Supi ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat 

MATANYA yang sudah sedikit kabur itu menatap warung pecelnya untuk terakhir kali. Kerut di wajahnya semakin ketara. Esok atau lusa, warung itu akan dirobohkan. Lahan tempatnya berjualan akan dijadikan lahan parkir. Baginya, mungkin ini jalan terbaik. Sudah tiga bulan semenjak mall yang memunggungi warungnya itu beroperasi, warungnya menjadi tak seramai dulu. Warung pecel yang kerap semarak saban hari, setelahnya lebih kerap sepi. Sisa sayuran rebus itu selalu tak habis, dengan berat hati Yu Supi selalu membuangnya. Memakai sisa sayuran basi akan lebih membuat warungnya bertambah sepi.

Warung itu telah berdiri sekian puluh tahun lalu. Dulu, Yu Supi hanya mendirikan tenda sederhana untuk menggelar dagangan pecelnya. Tapi seiring berjalannya waktu, pembeli silih berganti datang ke warung sederhananya. Pecel gendar miliknya semakin dikenal banyak orang. Sambal kacang yang selalu menggugah selera, sayuran rebus segar yang selalu baru serta gendar yang gurih dan enak itu menjadi kesukaan banyak orang. Menuju siang, biasanya gendar pecel milik Yu Supi sudah tandas, menyisakan pembeli-pembeli yang kecewa lantaran terlambat datang untuk menikmati sepincuk gendar pecel miliknya.

“Aku sudah mengikhlaskan warung pecelku ini dilebur menjadi lahan parkir mall itu, Sam. Bagiku rezeki itu datangnya dari mana saja,” ujar Yu Supi kepada Samadi, tukang becak yang membantunya mengangkut barang-barang dari warung ke rumahnya.

“Tapi sebenarnya emaneman ya, Yu. Banyak yang suka dengan gendar pecel njenengan soalnya,” sahut Samadi sembari mengangkat cobek besar tempat Yu Supi menggiling kacang tanah dan bumbu pecel ke atas becak miliknya.

“Itu dulu, Sam. Sekarang lain lagi. Sudah dua bulan ini aku lebih kerap merugi. Daganganku kerap tak habis meski kutunggu sampai sore hari. Entah, rezeki orang tak ada yang tahu. Tapi kata orang, semenjak ada toko-toko makanan di mall itu, daganganku menjadi kurang laku. Kudengar mereka juga menjual gendar pecel seperti daganganku. Harga sama tapi dikemas lebih bersih dan bagus. Entahlah aku sendiri tak tahu, benar atau tidak kabar itu.” Yu Supi menghela napas pendek.

Advertisements