Cerpen Hidar Amaruddin (Suara Merdeka, 16 Desember 2018)

Supar Anak Siluman ilustrasi Hery Purnomo -Suara Merdekaw.jpg
Supar Anak Siluman ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka

Seorang guru bergegas menuju ke kelas. Kewajiban menanti meski tubuh makin tak waras. Memberontak. Kepalanya berputar-putar, tanda pusing merayap hebat.

Tak lupa tas di tangan kanan. Agar terlihat berwibawa, ia menggantungkan kartu nama di saku kemeja sebelah kanan. Lagi-lagi kanan. Kenapa kanan? Hanya ia yang tahu atau memang keharusan peraturan.

Pak Ali, guru itu, hidup sebatang kara. Sebenarnya ia punya keluarga. Punya dua anak yang menjadi pengusaha di kota besar, tetapi susah mengajak mereka tidur nyenyak di rumah tuanya.  Sang istri pun lebih suka tinggal bersama si sulung. Begitulah nasib dan cinta. Dapat berubah tanpa disangka-sangka.

Senja telah menggerogoti usia Pak Ali hingga berharap pensiun cepat datang. Namun hati nurani masih berapi-api, bahkan ketika raga tak kuat menyangga dunia yang selalu berganti gaya. Ia dianggap kuno. Jangankan main Whatsapp, hape saja ia tak punya. Ia lebih memilih bertanya langsung pada siapa pun daripada menjadi budak teknologi.

Di kelas, seperti biasa, Pak Ali mengajar. Jangankan menggunakan model atau media masa kini, untuk bertutur kata saja, napasnya sudah ngos-ngosan. Ia mengajar dengan cara berceramah, cara kuno. Cara yang bagi banyak orang tak lagi bermutu. Ia tak peduli karena nyaman dengan gaya itu.

Setiap ia mengajar, anak-anak didiknya terdiam, sunyi. Ada yang diam memperhatikan, diam dalam permainan, diam dalam omongan, diam dalam lelap. Apa pun keadaannya, ia menahan hati. Bagaimana mungkin ia tega marah kepada anakanaknya? Jika ia marah, lalu mereka trauma dan menirunya kelak di kemudian hari, bisa bahaya. Ia tak ingin menanam akar keburukan.

Hari Sabtu, saat mata pelajaran keterampilan, ia meminta semua anak menggambar pemandangan. Hasilnya? Semua sama. Gambar dua gunung berwarna biru dengan satu jalan di tengah menuju ke gunung itu. Tak lupa sawah atau hutan di sekitar jalanan. Gambar yang abadi, sehingga semua orang kembali ke masa lalu ketika melihat pemandangan itu.

Advertisements