Cerpen Muhaimin Nurrizqy (Padang Ekspres, 16 Desember 2018)

Sandiwara 700 Tahun Sebelum Masehi ilustrasi Orta - Padang Ekspresw
Sandiwara 700 Tahun Sebelum Masehi ilustrasi Orta/Padang Ekspres

Lelaki itu bersusah payah membawa tubuh manusia yang baru saja ditemukannya. Sesekali ia seret tubuh itu, sesekali ia bopong, sesekali ia berhenti. Matanya menyipit menghalangi pasir-pasir menggores bola matanya. Dalam badai yang membawa asin laut, rinai, dan angin berpasir itu, ia tampak seperti seonggok bayangan yang pelan-pelan hilang dihapus kuasa angin.

Setelah mencapai pintu hutan, ia menggendong tubuh itu. Sendi lututnya menggigil menahan beban. Ia melangkah dengan hati-hati. Pelan. Sangat pelan. Menghisap segala cahaya yang ada untuk menuntun langkahnya.

Kulitnya yang tipis—menyembulkan lekuk urat seperti aliran sungai—diselimuti jaket yang terbuat dari kulit yang masih menyisakan beberapa bulu di sana-sini. Hawa panas mulai mengalir di punggungnya. Ia bisa merasakan degup di dada tubuh itu. Benar apa yang dibisikkan hati kecilnya tadi, tubuh itu masih memiliki nyawa.

Setengah perjalanan, perutnya mulai terasa lapar. Setidaknya ia telah membawa sedikit daging binatang itu. Ia mengira-ngira daging itu bisa untuk makan beberapa hari. Sebenarnya bisa lebih lama dan besar lagi daging yang ia bawa pulang. Tapi kali itu ia mesti mengganti bawaannya dengan tubuh manusia.

Asap dari corong gubuknya sudah terlihat. Walau angin begitu kencang, asap hitam yang keluar dari corong itu tidak begitu saja bisa dihembus. Melihat asap pembakaran itu, ia mulai merasa dingin dan gigil, karena di benaknya sudah tergambar hangatnya api.

Ketika ia hampir mencapai pintu, kakinya tiba-tiba lemah. Sendi di lututnya menjadi kaku dan ia tersungkur. Segera ia berdiri dengan susah payah kemudian menyeret saja tubuh manusia itu sampai ke dalam gubuknya.

***

“Terkutuklah kalian kaum laknat!”

Suara itu membuatnya tercekik. Lelaki itu batuk lalu segera meminum air. Daging yang tersisa di tangannya ia letakkan kembali ke dekat bara. Kemudian ia tengok ke belakang, tempat tubuh lelaki itu ia baringkan. Lelaki itu pun mendekat.

Ia perhatikan garis-garis wajahnya. Lelaki itu kemudian mendekatkan wajahnya untuk menatap lebih pasti. Ia gerakkan jemarinya ke kanan dan ke kiri di atas mata lelaki itu, memastikan apakah mata itu menangkap pergerakan atau tidak.

Advertisements