Cerpen Sandi Firly (Kompas, 16 Desember 2018)

musim berburu telah dimulai ilustrasi m rusyan yasin - kompasw
Musim Berburu Telah Dimulai ilustrasi M Rusyan Yasin/Kompas 

Membiru dan bau. Dada bolong—seperti matanya yang terbelalak kosong, tanpa jantung. Senja di kampung pinggiran hutan Meratus seketika riuh. Ini mayat kedua—satu minggu lalu juga ditemukan seonggok tubuh membusuk dengan kondisi yang sama.

“Hanya Anak Sima yang sanggup melakukan pekerjaan semacam ini,” ucap seorang kakek di tengah kerumunan warga kampung yang menutup mulut dan hidung.

Orang-orang menoleh kepada kakek berpakaian lusuh dengan jenggot panjang memutih. Tidak banyak yang mengenalnya. Sebagian hanya tahu bila kakek itu berdiam seorang diri di atas bukit. Anak Sima, itu adalah kisah usang dan bahkan sebagian hanya menganggapnya karangan.

“Bagaimana Kakek yakin ini ulah Anak Sima?” tanya seorang pemuda. “Bukankah itu dongeng belaka?”

Tatapan orang-orang beralih dari mayat—yang mulai mengundang lalat-lalat hijau besar datang. Mereka menunggu kakek bicara.

Baca juga: Hikayat Rumah Lanting – Cerpen Sandi Firly (Kompas, 18 Juni 2017)

“Tidakkah kalian lihat bagaimana kondisi mayat ini?” cetus kakek. “Tidak ada beruang, atau binatang buas lainnya yang menyerang mangsanya seperti itu. Kalian semua pasti tahu, hanya Anak Sima yang memakan jantung manusia.”

Senyap. Semua terdiam. Saling pandang, dan seakan gelombang ketakutan berembus bersama angin senja yang dingin. Belum lagi terungkap kasus penemuan mayat seminggu lalu, kini telah ditemukan korban baru dengan kondisi sama mengenaskannya; dada bolong.

Seperti mayat pertama, mayat kedua ini juga diketahui sebagai orang asing—bukan penduduk asli Meratus atau Kalimantan. Empat lelaki membawa mayat itu dari dalam hutan. Kabarnya, mereka orang-orang proyek tambang batubara yang sedang melakukan survei di pegunungan Meratus.

Advertisements