Cerpen Faris Rega (Pikiran Rakyat, 16 Desember 2018)

Kematian ilustrasi Rifki Syarani Fachry - Pikiran Rakyatw.jpg
Kematian ilustrasi Rifky Syarani Fachry/Pikiran Rakyat

IA telah terlempar dari kematian. Dari ruang yang penuh dengan napas-napas terakhir, air mata kering yang membekas di sekitarnya menguap untuk memanggil kematian. Ia terlempar dari mobil-mobil besar yang menggaungkan penghakiman, asapnya menusuk-nusuk hati, mengajak siapa pun untuk segera pergi ke akhirat ia terlempar dari sungai-sungai yang mengalirkan darah, menciptakan aroma kemenangannya sendiri. Ia terlempar dari kematian.

TELAH lama ia mencari sesuatu, mencari kematian yang telah membuatnya bersalah begitu hebat. Terlempar dari kematian bukanlah jalan terbaik ternyata, terlempar dari kematian justru membuatnya ingin mati beribu kali lipat, sakitnya bukan main. Setiap hari ia harus memikirkan cara jika ada seseorang yang datang ke rumahnya, lalu menyeretnya dan menagih kematian yang pernah tertunda, ia harus menyusun berbagai cara baru yang bisa menyelamatkannya dari hunusan arit di lehernya.

Ia meraung-raung, meminta siapa pun untuk mengirimkannya seseorang yang bisa melindunginya. Inginnya seorang ibu, agar ia bisa melindunginya di balik tangan kecil dan kerudung panjangnya. Ia bisa masuk ke dalam kerudung panjang seorang ibu agar tidak terjun ke kematian. Ia tidak perlu berlari karena mereka tidak akan membunuh siapa pun yang berada dalam lindungan kerudung ibunya. Meskipun anaknya tidak berkerudung.

Kalau tidak ada seorang ibu, ia memikirkan untuk memiliki seorang ayah saja. Seorang ayah yang akan membangunkan rumah dengan kubah di atasnya. Ia dapat tinggal di dalamnya, tidur di atas seprai berwarna hijau atau merah, membangun sendiri kebahagiaan yang ia impikan. Semua anak yang tinggal di dalam rumah berkubah tidak akan jatuh pada kematian, walaupun anak itu tidak tahu apa tujuan ayahnya menyimpan kubah di atas rumah.

Namun, seorang ibu dan ayah terlalu sulit untuk didapatkan, apalagi untuk seorang anak yang terlempar dari kematian. Tidak akan ada yang mengakui siapa pun yang terlempar dari kematian sebagai keluarganya, sebab mereka terlalu takutjika nanti kematian menjemput mereka pula.

Ia, yang terlempar dari kematian, masih bersembunyi di ruang kesunyian dan ketakutannya. Ia menulis ribuan puisi dan doa, ia menyesali kenapa ia harus hidup di tempat yang bahan pokok pangannya nasi, ia hanya ingin menolong sesamanya, tetapi ia yang malah terjerumus ke dalam jurang tanpa kemanusiaan. Ia menangis dengan sejadi-jadinya, ia menyesali semuanya. Ia menghapus bekas air matanya dengan air mata baru. Harus bagaimana lagi, tak ada yang bisa ia lakukan selain menangis.

Advertisements