Cerpen Edy Firmansyah (Jawa Pos, 16 Desember 2018)

Kenangan dan Zombi ilustrasi Budiono - Jawa Posw.jpg
Kenangan dan Zombi ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

“LETNAN Kajus!” sebuah seruan membuatku menunda menyantap bulir di warung Mak Hadim. “Pesan dari radio. Tim Bravo tumpas!”

“Bangsat! Bagaimana ceritanya bisa begitu?! Mereka semua tentara elite. Masak kalah sama cecunguk yang cuma bisa mengayunkan cangkul?” kutatap Serka Otnawsis yang tambun itu dengan mata mendelik. “Tak berguna. Tidur saja kerja mereka.”

“Mereka bukan cecunguk, Komandan. Mereka hantu!” bantah Serka Otnawsis. Serka Otnawsis kemudian mendekat. Menunjukkan video dari telepon genggamnya kepada Letnan Kajus atasannya.

“Tolong! Mereka menangkap saya! Tolong!” Letda Dias berteriak ngeri. Jeritan Letda Dias melejit ke langit HT-nya jatuh masuk selokan. Para zombi mulai mencekiknya. Menarik tubuhnya hingga terbelah dua. Lantas memakan dagingnya. Di antara usaha membebaskan diri dan meregang nyawa, terdengar lagi lengkingan Letda Dias yang menyayat, “Tolongngngngng! Pak Komandaaaaaaann!Tolongngngngngngngngng!!!!”

Di belakang empat zombi yang tengah pesta melahap tubuh Letda Dias, tampak zombi lain berjalan gontai. Memenuhi jalanan Desa Pahsiyah. Menyerbu koramil dan polsek. Memasuki madrasah. Memanjati tiang listrik dan pohon bistah sambil berteriak dengan serak. “Kembalikan tanah kami. Kembalikan! Grhhh…”

Kualihkan pandangan kepada delapan belas anak buahku yang sedang duduk di truk militer sembari menungguku selesai sarapan. Apakah mereka sanggup mengatasi zombi-zombi sialan yang tengah mengganas itu? Apakah tidak membahayakan melibatkan mereka ke medan pertempuran yang sebenarnya tak jelas itu? Bahkan tim Bravo, tim elite yang diterjunkan ke Desa Pahsiyah untuk meredakan teror zombi itu, sudah kalah telak. Padahal, Letda Dias adalah ahli mengatasi teror zombi.

Kuingat dulu Letda Dias yang berhasil mengatasi serangan zombi di Jakarta pada tahun 80-an. Zombi-zombi yang bangkit dari kubur karena hendak membalas dendam. Zombi-zombi itu adalah mayat hidup preman-preman yang ditembak tanpa proses pengadilan lewat sebuah tim yang dikenal dengan Petrus. Pembunuh misterius. Tim bentukan pemerintah untuk menyapu bersih preman-preman bertato yang meresahkan ibu kota.

Advertisements