Cerpen Rumasi Pasaribu (Haluan, 16 Desember 2019)

Dalam Mimpi pun Kita Tak Bertemu ilustrasi Istimewaw.jpg
Dalam Mimpi pun Kita Tak Bertemu ilustrasi Istimewa

Dua puluh enam tahun, bukan waktu yang sebentar untuk menghapus sebuah kenangan. Ia memang telah berlalu, tapi sebenarnya tak pernah benar-benar pergi. Setidaknya dari hati. Meski sesungguhnya, aku bukanlah seorang perempuan yang suka mengingat masa lalu.

“Maukah kau menikah denganku?”

Hatiku berdebar ketika kau memandangku, memintaku dengan sungguh-sungguh untuk menjadi pendampingmu. Angin senja menerpa wajahku, dan setitik air mata yang hendak jatuh menguap dibawanya.

Sama seperti dulu, ingin kukatakan “iya” kepadamu. Tapi bayang-bayang suamiku  bergelantungan di pelupuk mata. Lelaki yang telah tujuh tahun mengidap stroke, dan terbaring di atas ranjang dan hanya bisa memandangku dengan matanya yang layu itu bermain-main di imajinasiku. Apakah aku mampu meninggalkannya, kembali padamu yang kini duduk di hadapanku?

Dulu, ketika kau mengucapkan kata yang sama, kupandang kau dengan senyum rekah. Tapi tugas yang memaksaku berpindah ke pulau seberang, jauh di pedalaman, membuat segalanya menjadi rumit. Aku hanya mampu membalas suratmu yang datang dua minggu sekali. Atau berbincang melalui telepon lewat wartel saat aku ke kota kabupaten. Itu pun jarang terjadi. Sebab bumi belum tersambung kabel-kabel jaringan dan satelit yang menggurita seperti saat ini.

Lalu segalanya menguap, hilang ditelan aroma asin laut yang membatasi aku dan engkau. Kapal yang akan kita dayung hilang tanpa sebab. Tanpa tanda. Tanpa gelombang dan badai. Kucari ke mana-mana, tapi aku tetap tak mampu menemukannya. Setelah itu aku mengerti, semesta terlampau erat menyimpan takdir dan merahasiakannya sampai langit memberi tanda.

Kau kembali memandangku dan aku tak mampu tersenyum seperti dulu. Kutatap wajahmu. Uban telah berebut keluar bersisian dengan rambut hitammu. Kulit juga tak sekencang dulu. Tapi wajahmu masih segar. Senyum yang pernah kurindu-rindu waktu itu masih semenawan dulu. Betapa pandai mendiang istrimu menjaga dan merawatmu.

“Aku kesepian, Maena. Aku butuh kau. Aku ingin menua bersamamu,” katamu.

Advertisements