Cerpen Army H (Radar Banyuwangi, 16 Desember 2018)

Balada Negeri Simalakathur ilustrasi Reza Fairuz - Radar Banyuwangi.jpg
Balada Negeri Simalakathur ilustrasi Reza Fairuz/Radar Banyuwangi 

NYARIS satu warsa lamanya kerajaan Antah Jelantah terpanggang oleh terik mentari. Semua terpampang gersang. Tak ada hamparan rumput menghijau, apalagi bunga kemuning dan akasia, yang tersisa hanya ranting-ranting kering, persawahan yang menganga, dan hutan tak bertuan. Semua kosong. Satu per satu satwa pun mati, baik karena diburu manusia maupun mati oleh tantangan alam.

Kekeringan ini adalah bencana terpan jang dan terparah yang pernah terjadi di negeri ini. Teramat sulit kugambarkan kepadamu, betapa eloknya negeriku ini sebelumnya. Gunung, pantai, bukit, sungai, danau, hutan, dan padang rumput terang kai begitu indah. Semua tertata cantik oleh tangan Yang Mahaindah.

Tidak hanya alam yang memesona, kami juga memiliki istana kerajaan yang sangat megah. Kemewahan istana kami mampu menjadi simbol bahwa kami adalah negeri yang kaya, gemah ripah loh jinawi, murah sandang, pangan, dan papan. Rakyatnya tak pernah berkekura ngan. Namun, tidak untuk saat ini.

Sejak kekeringan mencekik ribuan leher, kami tak ubahnya seperti binatang yang terancam kelangsungan hidupnya. Berebut makanan hingga berujung saling bunuh menjadi pemandangan yang sangat biasa. Itulah jalan pintas yang dipilih orang yang tak kenal keadaban. Namun bagi sejumlah orang yang berbudi, mereka memilih bertahan dengan mencari umbi-umbian di hutan atau berburu binatang laut di hamparan pantai.

Raja Serok itu mulai resah merasakan nasib rakyatnya. Baru kali ini ia tak henti-henti bermuram durja. Dia berpikir keras. Sekiranya apa yang tepat untuk dilakukan demi rakyatnya di Antah Jelantah ini.

“Ampun, Paduka Raja. Kekeringan kali ini sungguh telah menjadi malapetaka bagi negeri kita. Istana harus membantu rakyat terutama masyarakat jelata untuk bisa bertahan. Kerajaan kita sangat kaya raya. Mulai uang perak, emas, batu intan, hingga permata. Semua kita punya. Bagaimana jika kita keluarkan sebagian untuk mereka? Sehingga mereka bisa ber belanja bahan makanan kepada saudagarsaudagar lalu di negeri ini. Kiranya mohon ampun atas kelancangan hamba ini, Paduka!”

Advertisements