Cerpen Beni Setia (Koran Tempo, 15-16 Desember 2018)

Cerita Singkat tentang Seorang Ifridian ilustrasi Koran Tempow.jpg
Cerita Singkat tentang Seorang Ifridian ilustrasi Koran Tempo

KOTA kami dilalui oleh jalan provinsi, lurus timur-barat. Di jalur itu-kini, dekat SMP 2-dahulu rumahku berdiri. Sebuah rumah, dengan bagian depan yang dijadikan toko emas dan separuh lagi toko pracangan, yang lebih banyak menjual barang klontong kebutuhan warga dan juga penampungan hasil pertanian dari pedalaman. Karena itu, rutin seminggu sekali, dikirim ke ibu kota provinsi dengan truk. Dan justru toko ini yang sangat laku dan dikelola suamiku dengan rajin menjalin hubungan dagang dengan para petani di pedalaman. Hingga suatu saat suamiku bilang bahwa ia akan berkonsentrasi menjual pupuk dan memasok para petani di pedalaman agar bisa dengan gampang mendapat hasil pertanian mereka. Tapi itu hanya rencana yang gagal, seperti yang akan diceritakan nanti.

Itu ada di selatan jalan, mutlak dimiliki suamiku, Lu Ng Wee. Padahal banyak tanah yang dimiliki keluargaku, yang ada di utara jalan-sebagian dibebaskan untuk pembangunan gedung Pegadaian, tapi ganti ruginya belum dibayarkan negara dan sisanya malah dihibahkan untuk membangun masjid kota-dan beberapa lagi merupakan bagian warisan yang mutlak milikku, dibuatkan rumah dan dikontrakkan. Dan satu, tepat di seberang, dijadikan rumah serta toko, yang lantas dikontrak Thee Lee Lang. Semua itu seharusnya milikku, cukup buat menghidupi kami-aku dan kedua anakku, Lu Ng Sang dan Lu Ng Sing-tapi tidak begitu. Kenapa? Karena PD II melanda dunia, dan Indonesia diduduki oleh Jepang. Itu membuat naluri dagang suamiku, Lu Ng Wee, mendorongnya melakukan lobi, mendekat kepada Jepang. Dan saat relasi itu membuat bisnis berjalan lumayan-meski tersendat-sendat-maka PD II berakhir dan Jepang harus angkat kaki. Indonesia diproklamasikan. Serta sebelum memperbaiki relasi dengan Indonesia-sebenarnya para petani di pedalaman-maka Belanda merangsek masuk dan menguasai kota.

Suamiku bimbang. Ia menjalin hubungan rahasia dengan para petani dari Indonesia dan juga melakukan hubungan jelas, nyata, dan terang-terangan dengan Belanda buat kelancaran bisnis. Hal itu membuat kami tak disukai penduduk pribumi. Toko menjadi sepi dan malah sering mendapat teror bersamaan dengan pecahnya perang menentang pendudukan Belanda. Celakanya-banyak orang yang lebih praktis dari suamiku-bersamaan dengan banyak rakyat ditangkap dan dipenjara, maka kecurigaan kepada suamiku memuncak. Dan klimaksnya adalah serbuan ke rumah dan toko kami, penjarahan, dan (bahkan) suamiku diciduk, dibawa mereka ke perbukitan hutan selatan. Dan katanya, mereka menyembelihnya di sana. Aku tidak sempat mengecek kebenarannya karena rumah kami dibakar dan toko dijarah. Barang-barang emas-sekitar sekaleng biskuit-telah diamankan dan disembunyikan di halaman belakang, bahkan (mungkin) telah ditenggelamkan ke dalam sumur wurung di halaman (kini) SMP 2, seperti yang sering dibisikkannya.

***

Advertisements