Cerpen Uniawati (Rakyat Sultra, 10 Desember 2018)

Lelaki Berselempang Sarung ilustrasi Rakyat Sultra.jpg
Lelaki Berselempang Sarung ilustrasi Rakyat Sultra

Perihal sosok lelaki berselempang sarung yang selalu mondar-mandir di kampung kami mungkin telah dilupakan oleh banyak orang. Tak ada yang istimewa pada diri lelaki itu yang patut dikisahkan oleh orang-orang tua kepada anak cucunya untuk menjaga ingatan tentang lelaki yang pernah menjadi bagian kehidupan mereka pada masa lalu. Namun, sosok lelaki itu masih lekat dalam ingatan masa kanak-kanakku. Dalam kepolosan usiaku yang masih terbilang belia, sosok itu cukup akrab dengan kehidupan kami sekeluarga meskipun aku tahu bahwa setiap kehadirannya melahirkan perasaan kurang senang di hati ibu, pun ketakutan pada diriku. Kecuali bapak, tak ada yang begitu senang menyambut setiap kunjungannya di rumah panggung kami. Entah, selalu saja muncul perasaan takut dan cemas setiap kali kulihat langkahnya meniti anak-anak tangga rumah kami.

Kugelari ia sebagai lelaki ber-selempang sarung sebab penampilannya selalu lekat dengan sarung yang diselempangkan menyilang di atas pundaknya. Sarung itu tidak pernah lepas dari tubuhnya. Sarung yang sama, seperti halnya pakaian yang menutupi ceking hitam tubuhnya. Celana pendek dan kemeja kotak-kotak kumal yang tidak pernah dikancing, kecuali saat ikut Jumatan di masjid. Sebuah songkok hitam yang tidak kalah kumal senantiasa bertengger di atas kepala menutupi seluruh uban yang hampir memenuhi kepalanya. Ia jarang mandi, kata orang-orang di kampungku. Tersebab itulah baunya sangat apak. Anak kecil seusiaku kala itu tidak akan tahan berlama-lama berada dalam radius kurang dari 5 meter darinya. Meskipun begitu, ia seakan tidak peduli dan tetap nyaman menempatkan dirinya di mana pun dan dalam kondisi apa pun. Tidak jarang, justru orang-orang di kampung kami yang menekan rasa malu tatkala pada acara-acara tertentu yang dihadiri pejabat dari kecamatan, ia datang menyeruak secara tiba-tiba untuk sekadar ikut ngobrol sambil menikmati sajian.

Lelaki berselempang sarung itu me-mang memiliki kebiasaan ngobrol berlama-lama. Ketika mengobrol, ia tidak pernah kehabisan bahan untuk diceritakan. Semua yang diceritakan itu selalu berkaitan dengan masa lalunya yang “gilang-gemilang”. Pernah suatu kali ada orang yang mungkin sudah kesal dan lelah mendengar penuturannya, menyela dengan ketus bahwa tak ada guna mengungkit masa lalu jika kenyataannya sekarang sungguh jauh berbeda. Mendengar hal itu, ia segera memperbaiki songkoknya lalu beranjak pergi sambil bersungut-sungut tidak jelas. Dapat dipastikan bahwa orang yang menyela pembicaraannya itu akan menjadi bahan cercaannya di tempat lain. Meskipun begitu, orang sekampung hampir tidak ada yang mau mempercayai ceritanya.

Advertisements