Cerpen Eko Triono (Tribun Jabar, 09 Desember 2018)

18TJ09121011.pmd
Seperangkat Alat Teror ilustrasi Wahyudi Utomo/Tribun Jabar 

PADA pagi ketika dia bersiap meledakkan diri, dia tiba-tiba teringat saat-saat luar biasa ketika pertama kali ayahnya membelikan petasan. Ketika itu, bulan puasa lewat separuh.

Dia kecil bersiap meletuskan petasan di halaman. Gelap telah berbuka tabur.

Dia pakai puntung obat nyamuk bakar. Wadahnya gambar King Kong. Dia mematah seukuran kelingking. Hasil merengek pada ibu. Usai dinyalakan dengan korek dari meja ayah, dia ikat pucuk bara itu pada galah sepanjang tongkat pramuka. Tetangga memberinya dari tumpukan sisa-sisa lanjaran kebun pare yang pahit.

Dari jarak sepanjang lanjaran, dia merunduk dalam keremangan bohlam teras. Nyaris tiarap; sesuatu yang kelak biasa dia lakukan bertahun-tahun kemudian saat di Suriah dan Afganistan. Bara di ujung galah dengan gemetar coba dia sentuhkan pada sumbu petasan jenis cabai rawit. Bentuk petasan itu merah seukuran setengah dari jajan stik kentang goreng; yang sedang populer di kalangan anak-anak seusianya.

Tangan kirinya, yang gemetar, menutup telinga kanan dengan melintang di atas kepala seperti bandana peredam. Kemudian, dor!

“Bau lebaran! Bau lebaran!”

Dia meloncat dalam kegembiaraan paling murni, saat bunyi fantastis terdengar seperti letusan ban sepeda.

Dia berharap teman-temannya mendengar apa yang terjadi. Dia berharap mereka segera mendekat padanya. Dia ingin segera pamer: aku mampu menyalakan petasan sendiri.

Advertisements