Cerpen A. Warits Rovi (Padang Ekspres, 09 Desember 2018)

Sepasang Sapi Karapan ilustrasi Orta - Padang Ekspres.jpg
Sepasang Sapi Karapan ilustrasi Orta/Padang Ekspres 

Terik mencakar, punggung tanah gersang, penuh goresan. Pohon siwalan ranggas, dan pohon lain yang tak seberapa, dicekik tangan gaib kematian. Tanah bertelanjang, penuh kerukan, penuh bekas sikatan mata cangkul. Nyaris tak ada rindang, kecuali onggokan beton, tulangtulang besi, dan timbunan semen.

“Di sini akan dibangun pabrik,” ucap lelaki bermata mawar, rambutnya sedikit uban.

“Ini kan tanahmu. Apa telah kaujual?” Tanya seorang lelaki lain, mengangkat alis.

“Kalau ada yang mau beli mahal, untuk apa dipertahankan?”

“Ini kan lapangan karapan?”

“Aku tak peduli.”

Keduanya lalu memotong tujuan, belok ke sebuah warung, mereka makan bersama di sana. Si lelaki yang satu, dipengaruhi oleh si lelaki uban. Ia pun mengangguk, dan mulai berangan, tanahnya segera dibeli juga. Mereka tertawa, terbahak.

Aku menguping semuanya dari balik kandang bambu, berlapis potongan lembar bungkus semen ini. Sebagai sapi karapan, aku sangat gelisah mendengar kabar penjualan tanah lapangan pacuan karapan.

“Di mana nanti aku akan lari?” gumamku dalam hati. Tentu sebelum Ki Nulam datang, membawakanku jamu rutin; oplosan kunyit dan telur, racikan jahe dan gingseng yang sudah dilumat di atas batu, dicampur ramun lain dari tumbukan dedaun yang entah apa namanya.

Wajah Ki Nulam selalu binar, saat ia mencekokkan jamu ke tenggorokanku, dengan bantuan sepotong bambu, sepenjang lengan. Mungkin ia optimis, karapan sapi akan terus ada sepanjang zaman.

Tentu, ia belum mendengar, bahwa tanah warga akan banyak yang dijual, tak terkecuali lapangan pacuan karapan.

***

Advertisements