Cerpen Khairul Fatah (Banjarmasin Post, 09 Desember 2018)

Seni Menangkap Ikan ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Post.jpg
Seni Menangkap Ikan ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post 

“Apa yang kau bayangkan saat menangkap ikan?”

“Pasti memasak, atau menjualnya?!” kata perempuan itu setelah terjeda hening.

Aku diam, mencerna perkataannya, merenungkan, mungkin juga berusaha mencari jawaban, atau bahkan bantahan. Tapi aku tetap diam.

“Pikiran awal keberhasilan!” kata perempuan itu memecah sunyi setelah mendapatiku tetap terdiam. Wajahnya seperti mengeluh dengan mata lekat menatap kolam.

“Engkau memang bukan ikan, tapi otakmu seperti kolam ikan!”

Aku terperanjak mendengar perkataan perempuan itu. Meski aku tak melihat wajahku, aku yakin pasti merah, seperti baru memakan cabe yang sangat pedas. Dan aku yakin perempuan itu pasti melihat kemarah di wajahku.

Benar, ia melihat kemarah di wajahku. Tapi ia tidak bersikap salah tingkah, atau tak enak hati. Malah ia tertawa. Melihatnya tertawa, aku makin marah, hingga mungkin wajahku makin merah.

Seandainya dia bukan perempuan, pasti kubunuh dan kucincang-cincang tubuhnya, seperti ibu mencincang-cincang tubuh ikan untuk dimasak. Tapi ia perempuan, hanya kebodohan yang melampiaskan kemarahannya pada perempuan. Seandainya saja dalam sedetik ia berubah wujud jadi pria atau minimal waria. Pasti wajahnya yang cantik jelita, dan tangannya yang gemulai, bahkan buah dadanya yang menonjol serupa gunung itu, tak akan indah lagi. Aku yakin, kemarahanku akan membunuh segala bentuknya. Tapi sayang dia perempuan, kemarahanku hanya sebatas kemarahan yang bergelora dalam dada tanpa bisa dilampiaskan.

Advertisements