Cerpen Oxandro Pratama (Singgalang, 09 Desember 2018)

Malam Ini Tidak Ada Susu, Rocky ilustrasi Singgalang.jpg
Malam Ini Tidak Ada Susu, Rocky ilustrasi Singgalang 

RAMADHAN tinggal menunggu hari. Hampir seluruh siaran televisi lokal tak henti-hentinya mengulas berita tentang perdebatan tanggal yang akan ditetapkan untuk memulai bulan suci yang mewajibkan seluruh umat muslim di dunia untuk menunaikan ibadah puasa. Begitu juga halnya di Pasar Atas. Masyarakat yang mayoritas adalah pedagang sudah mempersiapkan diri menyambut kedatangan bulan penuh berkah itu. Dikenal sebagai pusat perbelanjaan di seantero Sumatera Barat, maka para pedagang di Bukittinggi sudah mulai mencukupi persediaan barang dagangan mereka—khususnya bagi pedagang pakaian—karena hanya di bulan ramadhan mereka dapat merasakan panen uang dari penjualan yang tak henti-hentinya terjadi dari awal bulan ramadhan hingga lebaran. Hal itu merupakan kesempatan bagi para pedagang untuk sebanyak-banyaknya.

Saat bulan Ramadhan, hampir seluruh masyarakat yang berdagang di pasar merasakan kebahagiaan yang tiada tara: dari pedagang, tukang angkat, penjahit, dan penjaja makanan, semuanya merasa bahagia, sebab hanya sekali setahun—tepatnya di bulan Ramadhan-lah—mereka dapat merasakan pasar begitu ramai dan sesak dikunjungi oleh orang-orang yang bukan hanya sekedar melihat-lihat, namun bisa dikatakan pasti membeli.

Tetapi, kebahagiaan tampaknya tak terasa oleh sepasang suami-istri yang memiliki kios di tengah-tengah pasar. Sepasang suami-istri yang mengontrak kios di kawasan ramai lalu-lalang pengunjung itu bernama Adeng dan Gina. Mereka menjual beraneka macam jilbab—barang yang pastinya akan menjadi buruan para ibu-ibu di saat bulan nan suci ini. Namun kenyataan tersebut justru tak membuat mereka bersyukur layaknya pedagang lain.

Pada siang yang terik itu, Gina duduk di bangku plastik petak sambil bersandar ke etalase-nya, menikmati pemandangan yang membuat mulutnya menjadi ternganga. Tepat di depan kedua mata Gina, berdiri sebuah toko dengan empat pintu bernama Lolly Boutique. Toko itulah kini yang menjadi tontonan Gina, karena sedari tadi toko itu tak henti-hentinya dipenuhi oleh ibu-ibu yang saling berdesakan ingin belanja. Lolly, wanita pemilik kios itu, tampak kewalahan melayani ibu-ibu yang mencoba baju gamis dagangannya, sehingga suaminya pun terpaksa turun tangan membantu melayani mereka.

Advertisements