Cerpen Ka’bati (Haluan, 09 Desember 2018)

Keluarga Pelukis Kita ilustrasi Istimewa.jpg
Keluarga Pelukis Kita ilustrasi Istimewa 

Istri pelukis kita terlihat segar setiap pagi. Jam empat dia sudah bangun dan langsung sibuk mengurus dapur. Memeriksa bahan yang akan dimasak untuk sarapan, menjerang air, dan memotong bawang. Dia bekerja sambil berdendang. Kadang syair yang dia lagukan terdengar ringan, riang. Namun sering juga dendang ratapan. Tergantung suasana hati saja kelihatannya. Pada jam seperti itu, sudah pasti, pelukis kita masih ngorok. Paling lama, baru satu jam dia tertidur.

Setelah semua masakannya beres, Istri Pelukis kita— yang bernama Narni— membagi makanan itu ke dalam beberapa kotak, untuk sarapan, persediaan makan siang dan makan malam. Kemudian dia mandi dan berganti pakaian. Begitu waktu subuh masuk, dia membangunkan dua anak laki-lakinya. Kalau anak-anak itu susah bangun, maka dia akan berdendang;

Indung-indung kepala indung

Hujan di mudik di sini mendung

Anak siapa pakai kerudung

Mata melirik kaki tersanduuung

Pada bait itu, biasanya anak-anak Pelukis Kita mulai menggeliat. Tetapi mereka tidak seperti ibunya yang begitu tersentak bisa langsung bangun dan berdiri. Anak-anak itu butuh waktu beberapa saat untuk menikmati masa antara lelap dan jaga. Narni kemudian melanjutkan dendangannya,

La haula wala kuwwata

Mata melirik seperti buta

Tiada daya tiada kuasa

Melainkan tuhan yang maha esa

Advertisements