Cerpen Lana Savira KD (Suara Merdeka, 09 Desember 2018)

Kecantikan Itu Melukaiku ilustrasi Putut Wahyu Widodo - Suara Merdeka.jpg
Kecantikan Itu Melukaiku ilustrasi Putut Wahyu Widodo/Suara Merdeka

Cantik. Kata itu akrab di telingaku. Sejak aku kecil, orang-orang di sekitarku selalu melontarkan kata itu, termasuk mamaku. Ia sering mengatakan begitu dan mengakhiri dengan tawa atau senyum manis.

Rambut hitam lebat, mata bulat, hidung mancung, dan bibir tipisku menjadi hal yang lucu. Belum lagi tulang dagu lancip, bulu mata lentik, proporsi tubuh seksi.

Namun papaku tak pernah berkomentar apa-apa. Bahkan sekadar tertawa bersamaku pun dia enggan.

Saat aku dewasa di lingkungan baru, teman-teman juga acap mengatakan hal serupa. Menurut mereka, aku cantik. Namun tak semua orang senang berdekatan denganku. Banyak pula yang membenciku. Bahkan menghujatku. Aku jadi sering bertanya-tanya, apa yang salah dengan paras cantikku?

***

Baca juga: Bulan Menangis di Atas Nisan – Cerpen Zainul Muttaqin (Suara Merdeka, 02 Desember 2018)

Sore ini aku menikmati bau petrikor. Itulah aroma khas seusai hujan di taman belakang di samping kolam di rumah salah seorang anggota kelompok sosialita kami. Sudah setahun ini kami mengadakan arisan rutin sebulan sekali di tempat berbeda-beda. Kadang di bar, kadang di rumah salah seorang anggota. Namun yang paling sering di sebuah vila.

Kami arisan untuk menjauhkan diri dari hiruk-pikuk kota dan melupakan sejenak tumpukan kerja. Kali ini, Mery jadi tuan rumah. Aku belum lama kenal dia.

Mery korban pemerkosaan menjelang keruntuhan Orde Baru. Dia melarikan diri, mengungsi ke pesisir utara, sebelum akhirnya pindah dan menetap di Bali. Lalu, melanjutkan pendidikan di bidang seni.

Advertisements