Cerpen Benny Arnas (Jawa Pos, 09 Desember 2018)

Gadis Kamarian, oh Gadis Kamarian-2 ilustrasi Budiono - Jawa Pos.jpg
Gadis Kamarian, oh Gadis Kamarian ilustrasi Budiono/Jawa Pos

(Bagian 2 — Habis)

 “EH KAMU masih ingat Om David?”

Suara nyaring sahabatnya itu seperti membuka bilik kenangannya yang lain. Mungkin sahabatnya itu pikir, dengan mengalihkan percakapan tentang ayahnya ke topik terkait Om David, bisa membuatnya hijrah dari masa lalu yang barusan merangkulnya begitu erat. Sayang sekali, sahabatnya itu keliru.

Tiba-tiba bilik ingatan yang lain membuka pintunya sendiri.

Ketika tahun baru saja bernama baru, di tengah malam yang mulai riuh, ayahnya membawanya ke rumah-rumah tetangga yang memegang jabatan sebagai pemuka adat atau pendeta. Mereka bersalaman. Mengucapkan selamat tahun baru sekaligus mengirimkan doa untuk kebaikan masing-masing. Seseorang yang ia panggil Om David sering memberinya dodol durian yang sangat manis kepada anak-anak di malam itu. Ia selalu tidak ingin melewatkannya!

Baca juga: Gadis Kamarian, oh Gadis Kamarian (Bagian-1) – Cerpen Benny Arnas (Jawa Pos, 02 Desember 2018)

Walau tidak selalu, Om David juga gemar bercerita. Dari pria bermarga Tomatala itulah ia tahu kalau lekewa diamanahkan kepada keluarga Tomatala untuk dijaga dan dipelihara.

Dari laki-laki berperawakan keras dan berambut keriting itu juga ia akhirnya tahu kalau Negeri Kamarian yang didominasi pemeluk Kristen memiliki pela yang sama dengan Negeri Sepa yang muslim di Ambon. Informasi dari Om David itu menjadi penting baginya, paling tidak, berhasil membuatnya berhenti mengagumi Ahmad, cowok satu kelas yang jadi perbincangan cewek-cewek satu SMA-nya kala itu, karena akhirnya ia tahu kalau Ahmad berasal dari Sepa. Belakangan ia juga baru sadar kalau teman-teman SMA-nya yang perempuan tidak pernah serius menyukai Ahmad. Tebakannya … tentu karena pela yang sama.

Advertisements