Cerpen Joko Pinurbo (Kompas, 09 Desember 2018)

Ayat Kopi ilustrasi Made Gunawan - Kompas.jpg
Ayat Kopi ilustrasi Made Gunawan/Kompas 

Kedai kopi bermunculan di mana-mana, tetapi warung kopi Bu Trinil tetap menjadi favorit saya. Kopi bikinan Bu Trinil tetap paling jos rasanya; saya sudah merasakan khasiatnya bagi kesehatan jiwa saya.

Di warung Bu Trinil saya bisa berkenalan dan mengobrol dengan berbagai macam orang. Petang itu, misalnya, saya berkenalan dengan seorang pria berbaju batik biru, namanya Marbangun. “Panggil saja Bang Bangun,” ujarnya.

Marbangun bercerita, saat ini dia sedang menata hidupnya. Sudah bertahun-tahun dia mencari peruntungan di dunia politik, tetapi belum juga membuahkan hasil. Dia pernah dua kali nekat ikut mencalonkan diri sebagai anggota badan legislatif di kotanya dan kedua-duanya gagal.

Baca juga: Laki-laki Tanpa Celana – Cerpen Joko Pinurbo (Kompas, 8 September 2013)

“Semoga sampean tidak terjerumus ke dalam kancah politik. Politik itu keras, penuh muslihat. Orang lugu seperti sampean akan celaka,” katanya.

Untuk menuruti ambisinya, banyak harta benda yang telah dia korbankan. Dia sudah menjual tanah dan sapi di kampung, mobil, perabotan furnitur, dan barang-barang berharga lainnya. Bahkan, katanya, “Seandainya saya punya kucing, mungkin saya akan jual kucing juga.”

Setelah didera berbagai kegagalan, Marbangun memutuskan untuk berserah kepada Tuhan, menjauhkan diri dari godaan duniawi. Dia ingin ikut membangun masyarakat yang bertakwa dan berakhlak mulia.

Baca juga: Suara di Bandara – Cerpen Budi Darma (Kompas, 02 Desember 2018)

“Tak ada lagi yang bisa saya jual,” katanya. “Satu-satunya yang masih bisa saya jual ialah…”

Dengan agak tergesa-gesa Marbangun beranjak dari duduknya, membayar jajanannya, lalu pamit pergi; katanya dia akan menengok dan mendoakan temannya yang sakit. Pada saat bersamaan merebak bau kentut yang menyengat. Saya dan beberapa orang saling memandang curiga, seakan-akan saling menyelidik siapa yang telah melepaskan kentut tanpa bunyi itu. Sambil memencet hidungnya, Bu Trinil mengarahkan telunjuknya kepada Marbangun yang sedang melangkah pergi. “Orang itu memang suka kentut sembarangan,” cetusnya.

***

Advertisements