Satu jam pun berlalu. Aku tiba di jalan raya. Setelah membayar tukang ojek, aku langsung menuju seberang jalan untuk menunggu bus yang menuju kota Banyuwangi. Tak lama kemudian bus yang aku tunggu tiba. Aku segera naik dan duduk di bangku bus yang kosong. Kebetulan bangku yang kosong adalah bangku yang paling depan tepatnya di belakang bangku sopir. Pandanganku begitu leluasa. Aku bisa melihat bagian depan saat bus berjalan, begitu juga bagian samping, terutama bagian kanan jalan. Aku nikmati perjalananku dengan perasaan yang nyaman. Ketika aku sedang asyik menikmati perjalanan, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara kondektur.

“Ke mana, Bu?”

“Eh, eee… Banyuwangi.”

“Banyuwangi mana?”

“Karangente.”

“Sepuluh ribu, Bu.”

Aku segera mengeluarkan dompet, kuraih uang sepuluh ribuan dan langsung kuserahkan kepada kondektur. Aku pun menerima lembaran karcis yang telah diberi tanda coretan pada nama kota yang akan aku tuju. Segera kumasukkan sobekan karcis ke dalam saku bajuku. Aku pun kembali menikmati perjalanan dengan santai sambil mendengarkan musik dari ponselku menggunakan headset.

Bus yang aku tumpangi pun tiba di Terminal Brawijaya yang lazim disebut masyarakat Banyuwangi dengan nama Terminal Karangente. Aku segera turun dari bus dan di pintu keluar telah menunggu Ni Luh Padmi, sahabatku. Ni Luh menyambutku dengan gembira. Dia segera mengajakku masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di pool angkutan kota.

“Bagaimana perjalananmu, Sekar?” Ni Luh Padmi membuka percakapan.

“Agak capek sih, tapi menyenangkan juga.”

“Tapi nggak repot, kan?”

“Ya nggak sih.”

“Sekar, ada banyak hal yang mungkin tidak akan kamu percaya bila kuceritakan padamu.”

Advertisements