Cerpen Yetti A. KA (Koran Tempo, 08-09 Desember 2018)

Kami Naik Kereta Uap ilustrasi Koran Tempo.jpg
Kami Naik Kereta Uap ilustrasi Koran Tempo 

Oktober tahun lalu, kami pergi piknik ke sebuah danau di luar kota, di kawasan perbukitan berudara dingin. Sebenarnya, cuaca cukup bagus di hari itu. Langit sangat terang. Kami memperkirakan hingga sore cuaca akan bertahan seperti itu. Kami membawa bekal yang banyak. Tidak lupa beberapa botol sirup rasa jeruk. Sebenarnya aku menginginkan sekotak es krim, tapi ibuku tidak setuju mengingat es krim yang mencair itu tak berbeda dengan sirup.

Setiba di pinggir danau, kami membentangkan tikar di bawah pohon yang cukup rimbun. Kami menumpuk kotak makanan dan botol-botol minuman di satu tempat agar tidak perlu mencari-cari bila kami butuhkan. Kakakku segera mencopot bajunya dan menyisakan celana pendek hitam berbahan karet. Ia berlari ke danau. “Hati-hati!” teriak ibuku. Kami sudah beberapa kali piknik di danau ini. Kakakku sudah tahu tempat aman untuk mandi-mandi. Ayahku mengeluarkan surat kabar dari tas ranselnya. Ia tidak pernah betah membaca berita lewat ponsel. Ibuku sibuk dengan permainan di gawainya. Setiap hari ia begitu. Tak ada hari yang tidak sibuk dengan bermacam-macam permainan—saat pergi piknik sekalipun.

Baca juga: Kau Tidak Harus Menanggung Beban dari Seluruh Kejadian di Dunia Ini – Cerpen Yetti A. KA (Kompas, 25 November 2018)

Aku melihat kakakku sudah asyik bermain air. Ia memang sangat suka segala yang berhubungan dengan air. Bila hujan turun, ia akan membuka jendela berlama-lama. Ia mengulurkan tangannya keluar dan membiarkan air hujan menitik di jemarinya. Kalau ibuku tidak menegurnya, mungkin ia akan tetap melakukannya sampai jemarinya memutih.

Advertisements