Cerpen Michael Musthafa (Kabar Madura, 03 Desember 2018)

Nur, Si Gadis yang Tidak Mencintaiku ilustrasi Isimewa.jpg
Nur, Si Gadis yang Tidak Mencintaiku ilustrasi Istimewa 

BAGAIMANA kabarmu, Nur? Sudah lama aku tak menjumpaimu, maksudnya tak menjumpai senyummu. Apa kau sedang baik-baik saja? Kuharap, keadaanmu adalah seperti yang selalu kuharapkan.

Kau tahu, teman-temanku memintaku bercerita tentangmu. Bahkan aku diminta untuk mengenai tetekbengek mengenai hidupmu. Apa itu tidak aneh menurutmu? Apa perlu kuceritakan pada mereka bahwa kau pernah tersnyum dua puluh satu kali dalam durasi 2 jam pelajaran Pancasila di kelas? Oh tidak, itu sangat tidak sopan untuk membicarakan orang sedetail mungkin.

Oh iya, Nur. Karena mereka adalah teman-teman baikku, maka aku merasa segan untuk tidak menuruti permintaan mereka. Lagi pula, bercerita tentang bukanlah hal yang membosankan. Aku justru senang ada orang-orang seperti mereka yang sudi menjadi pendengar setiaku. Tapi kuharap kau tidak keberatan untuk kubicarakan. Hanya untuk mengisi kehangatan dalam kebersamaan kami, bukan dalam rangka meng-ghibah-mu.

Mungkin mereka hanya penasaran kenapa aku bisa menyukaimu. Sudah beberapa kali kubilang pada mereka bahwa kamu adalah gadis yang mudah dibuat senang, murah senyum dan periang. Karena itulah aku bisa menyukaimu, kubilang. Kurasa makhluk sepertimu memanglah produk Tuhan yang sangat terbatas.

Mereka sudah kusuruh catat baik-baik bahwa “Nur” adalah orang yang menyerupai arti namanya, yaitu “cahaya”. Cahaya? Iya, Cahaya, yang selalu menerangi setiap orang yang melihatnya. Awalnya tak percaya. Tapi, kuingatkan mereka bahwa akulah saksinya, saksi cahaya keindahanmu.

Advertisements