Cerpen Yuditeha (Kedaulatan Rakyat, 02 Desember 2018)

Tanah ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Tanah ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat 

TANAH adalah daratan tempat berpijak, adalah butiran debu di musim kemarau, adalah tempat segala benih tumbuh, adalah yang longsor karena pohon-pohon ditebang, adalah tempat yang hidup kembali mati, adalah oleh Yang Maha Kuasa diberi pesan jangan main-main dengannya, sebab jika kalian nekat melakukannya, nyawa kalian akan digantung. Seperti gema, gumam para jelata mengekalkan asa yang mulai menipis.

Di atas sepetak tanah warisan, Tabah, salah satu dari warga setempat, telah bertahun-tahun menjalankan kedai kopi untuk menghidupi istri dan kedua anaknya. Meski hidup sederhana, tapi mereka bahagia, sampai suatu saat segerombolan pejabat datang memberi kabar bahwa bangunan kedai kopinya harus pindah. Di sana akan dibangun gedung mewah yang akan dipakai para pejabat rapat. Istri Tabah bernama Siti, yang punya paras cantik dan bertubuh sintal menjadi gundah. Siti menangkap isyarat, tak lama lagi akan ada yang menimpa keluarganya. Dia berpesan kepada Tabah agar hati-hati bersikap. Jangan grusa-grusu, sebab menurut Siti, mereka adalah orang-orang tamak.

Baca juga: Kemeja Batik – Cerpen Muna Masyari (Kedaulatan Rakyat, 25 November 2018)

“Siti itu milik siapa?”

“Dia milik Tabah, Tuan.”

“Ambil paksa dan bawa ke sini!”

“Untuk apa, Tuan? Bukankah urusan kita tanah, bukan Siti?”

Baca juga: Menebang Pohon Tuhan – Cerpen Daruz Armedian (Kedaulatan Rakyat, 18 November 2018)

Orang-orang berteriak. Bagaimana jika ada penjarahan? Bagaimana jika ada penggusuran paksa? Mereka semakin keras berteriak. Azab akan datang tanpa kompromi. Bagaimana jika orang berpangkat yang melakukan? Azab akan berlaku sepuluh kali lipat. Jika ada pejabat yang tahu kesepakatan ini dan tidak bertobat, nyawanya akan melayang-layang menjadi setan yang kerjanya minta belas kasihan, sebagai balasan karena semasa hidupnya kerap menghina, dan tak segan menginjak-injak harapan orang jelata yang meminta pengayoman, meminta relokasi sepantasnya, meminta ganti rugi sepadan.

Advertisements