Cerpen Budi Darma (Kompas, 02 Desember 2018)

Suara di Bandara ilustrasi Budiyana - Kompas.jpg
Suara di Bandara ilustrasi Budiyana/Kompas 

Ketika saya terbangun, pesawat baru saja memasuki wilayah Hongaria, dan pada waktunya nanti pasti akan mendarat di Amsterdam. Inilah pekerjaan saya sebagai penerbit: menerbitkan buku, mengusahakan terjemahan, memasarkan buku di negara-negara Eropa, jual beli hak cipta, dan berbagai negosiasi lain. Dan pekerjaan ini saya lakukan satu tahun sekali, atau, kadang-kadang dua tahun sekali.

Tapi, karena dalam beberapa bulan terakhir saya sering mendengar suara perempuan di bandara-bandara besar, saya berusaha untuk lebih sering bepergian. Kalau saya tidak datang lagi dalam waktu lama, mungkin suara itu akan diganti oleh suara orang lain. Rekaman pengumuman mengenai keberangkatan dan kedatangan pesawat internasional bisa saja sewaktu-waktu diganti.

Pengumuman dalam bahasa Inggris, Jerman, Perancis, Mandarin, dan Jepang, itu biasa. Yang luar biasa, di samping bahasa-bahasa itu, adalah pengumuman dalam bahasa Indonesia, dan juga bahasa etnik Jawa.

Baca juga: Lorong Gelap – Cerpen Budi Darma (Kompas, 24 Juni 2018)

Suaranya halus tapi sekaligus keras, lembut tapi juga tegas, dan semua diucapkan dengan diksi dan artikulasi yang sangat meyakinkan. Semua serba pas, seolah-olah semua bahasa itu adalah bahasa ibunya.

Mula-mula saya ragu, tapi kemudian saya yakin, suara itu pasti milik Sandra Liangsi, mahasiswi Jurusan Jerman UNESA, yang tiba-tiba lenyap baik dari rumahnya di Praban, maupun dari Kampus UNESA Ketintang. Kata orang, Sandra melarikan diri, diikuti oleh kedua orang tuanya, entah ke mana.

Dulu saya kuliah di Jurusan Inggris UNESA, dan karena itu saya tahu sedikit banyak mengenai Sandra. Dia cantik, cekatan, berani, dan suka menghina orang lain. Wajahnya lonjong, kalau tersenyum di kedua pipinya tampak cekungan yang membuatnya makin cantik, meskipun senyuman itu memancarkan ejekan, pertanda bahwa dia merasa hebat.

Advertisements