Cerpen Guntur Alam (Padang Ekspres, 02 Desember 2018)

Sempurna ilustrasi Orta - Padang Ekspres.jpg
Sempurna ilustrasi Orta/Padang Ekspres 

KAU ingat persis, kapan mulanya kau ingin selalu sempurna di banding siapa pun di dunia ini. Ya, tentu saja kau mengingatnya. Saat kau berumur tujuh tahun, dua hari sebelum hari ke lima belas bulan delapan kalender lunisolar, ketika ibumu berkata, “Kau harus membuat kue songpyeon yang bagus. Paling bagus dari kue songpyeon siapa pun.”

Tangan ibumu sibuk meraup biji wijen dan kacang, sementara pedagang di pasar sayur ini sibuk menimbang dan mengoceh.

“Untuk apa?” kau bertanya, “Apa weharabeoji dan wehalmeoni hanya akan memakan kue songpyeon yang bagus? Apa mereka hanya menyukai cucu perempuan yang cantik?”

“Kau ini,” ibu menjitak kepalamu sembari menggerutu dengan suara lirih. Kau tak ingin mendengar ocehannya, tapi kau tetap membuka mulutmu.

“Bila sudah besar dan bekerja, aku juga akan cantik,” sungutmu.

Baca juga: Darah Pertama – Cerpen Guntur Alam (Tribun Jabar, 11 November 2018)

Ibumu bergegas menyeret langkah sembari membawa keranjang belanja yang sarat. “Kenapa bisa begitu?” dia bertanya.

“Aku akan menyisihkan gajiku untuk operasi plastik. Aku akan jauh lebih cantik dari personil Blackpink.

“Aiguuu…,” ibumu mendesis persis ular. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Kau tersenyum sembari mengangkat dagu.

“Secantik apa pun dirimu kelak,” ujarnya, “Akan tetap mengerikan bila kau tak bisa membuat kue songpyeon yang bagus.”

Kau membelalak. “Kenapa bisa begitu?”

“Karena tampan dan tidaknya suamimu, tergantung dari kue songpyeon yang kau persembahkan pada leluhurmu. Kalau kuenya jelek, mereka akan memilih jodoh yang jelek juga untukmu.”

“Takhayul!” teriakmu, di antara riuh rendah suara pedagang dan derap langkah ibumu yang semakin gegas.

Ibumu terkekeh. “Aku bukti hidupnya,” dia mendesis seperti ular lagi.

Advertisements