Cerpen Ahmad Zaini (Radar Banyuwangi, 02 Desember 2018)

Purnama di Pantai Boom ilustrasi Radar Banyuwangi.jpg
Purnama di Pantai Boom ilustrasi Radar Banyuwangi 

HEMBUSAN angin laut kala senja benar-benar istimewa saat itu. Semilir tiupannya biasanya kurasa sendiri dalam bilik rumah berdinding bambu. Angin laut yang selalu menyelinap lewat celah rumahku tanpa permisi itu kunikmati sendiri sambil duduk memagut waktu sepi. Namun, kini ada yang berbeda. Angin itu tidak hanya membelai rambutku yang kusut saja, tetapi juga membelai rambut sebahu wanita istimewa yang berada di sampingku.

Keistimewaan angin laut dan wanita itu semakin sempurna ketika senja menyembunyikan pucuk-pucuk cemara. Yakni, saat hari benar-benar memasuki gerbang malam. Kicau camar yang terbang melayang di atas Pantai Boom mengundang sejuta kenikmatan atas karunia Sang Pencipta. Hamparan lembut pasir pantai tersebut semakin menenggelamkanku pada keagungan Yang Mahakuasa. Di timur bentangan laut muncul purnama berwajah memesona. Cahyanya yang putih berkilau di gulungan gelombang berlari kian kemari. Riak gelombangnya merayakan purnama seperti masa kecilku yang menghabiskan cahya purnama dengan bermain kejar-kejaran bersama teman sebaya sampai suntuk.

”Senandung malam menyejukkan jiwaku, Mas. Jangan beranjak dulu sebelum gumulan purnama melepas malam,” kata Sakila lirih dekat cuping telingaku.

“Tidak usah risau. Duduklah semalam suntuk di sini untuk menumpahkan semua kekesalan hidupmu. Kau dapat membuang kesialan hidupmu dengan melarungkan bersama gelombang ke tengah laut yang bertabur cahaya purnama, Sakila,” sahutku.

Advertisements