Cerpen Khairul Fatah (Fajar, 02 Desember 2018)

Pemburu Gelap ilustrasi Fajar
Pemburu Gelap ilustrasi Fajar 

Apa yang kau bayangkan saat larut malam tanpa lampu-lampu, tanpa sinar rembulan? “Gelap” mungkin jawaban pertama yang keluar dari mulutmu. Tapi apakah kamu tahu gelap itu apa!? Ketiadaan atau kematian!

Dilarut malam tanpa sinar lampu-lampu, Aku kembali teringat tentang tiga kisah pemburu gelap.

Perenung yang menulis gelap

Ia seorang perenung, pemburu sepi yang paling handal. Setiap malam yang larut ia bersembunyi di rimbun semak, dan berjalan mengendap-ngendap. Ia mencari sunyi dengan gelap yang paling pekat.

Di tengah hutan tak berpenghuni itu, ia termenung, lalu berjalan pelan seperti pemburu rusa; kakinya hati-hati menapaki tanah. Ia tak mau derap kakinya terdengar, karna takut gelap kabur.

Baca juga: Namaku, Andi Gempa Nulanda – Cerpen Rachmat Faisal Syamsu (Fajar, 14 Oktober 2018)

Setelah benar-benar sepi dan sunyi, ia duduk dengan mata tajam mengamati seluruh penjuru hutan. Tak ada angin dan cahaya bulan. Hanya terdengar suara binatang hutan dan anjing yang terus menyalak. Ia terus duduk mengamati gerak dalam gelap.Waktu kian larut, tak ada gerak yang ia lihat, hanya hitam pekat yang menghalangi pandangannya. Ia terus menunggu hingga matahari muncul dari ufuk timur. Terus setiap waktu, ia begitu, kembali berburu saat malam bertandang.

Dan setelah abad dua puluh satu ia baru tahu, bahwa gelap tak bisa diburu, apalagi di bunuh. Tapi gelap bisa membunuh.

Advertisements