Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 02 Desember 2018)

Hikmah ilustrasi Rendra Purnama - Republika.jpg
Hikmah ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

Sudah empat tahun Tarno bekerja sebagai guru tidak tetap di sebuah sekolah negeri. Selama itu juga pemuda tersebut hidup dengan gajinya yang kecil untuk melengkapi kebutuhan pokok keluarganya. Memang untuk urusan menikah, Tarno baru melaluinya selama dua tahun terakhir. Namun, ia sudah lelah hidup dalam kekurangan karena gajinya yang tak mencukupi. Bisa dibayangkan, selama sebulan, ia hanya digaji tiga ratus ribu rupiah dengan kebutuhan pokok yang banyak. Padahal, pekerjaannya sama beratnya seperti guru-guru lainnya yang sudah tetap di sekolah. Ia harus berangkat pagi, pulang sore, merekap nilai, dan merangkap menjadi guru bantu lembaga bimbingan belajar di luar sekolah.

Memang mau tidak mau Tarno harus bekerja tambahan di luar. Selain menjadi guru, Tarno juga bekerja sebagai pembimbing lembaga belajar. Dari pekerjaan itu, Tarno mendapatkan gaji yang lumayan untuk menutupi kebutuhan pokok. Tujuh ratus ribu setiap bulan. Sayangnya, gajinya itu belum cukup juga. Akhirnya ia dan istrinya membuka usaha kecil-kecilan, yaitu berjualan secara online. Hasil jualan secara online itu lumayan menambah penghasilannya. Namun, usaha jualan yang dilakukan Tarno dan istrinya ini tidak bisa dijagakan setiap bulannya karena tidak tetap. Makanya, jika kini Tarno tampak tua lebih lima tahun daripada usiannya, hal itu adalah wajar. Tarno sudah bekerja keras bagaikan kuda.

Baca juga: Peluit Perdamaian – Cerpen Risda Nur Widia (Tribun Jabar, 30 September 2018)

Hidup yang berliku dihadapi oleh Tarno sebagai guru honor dan pedagang serabutan di dunia maya. Rasanya, apabila mengingat semua itu, Tarno bosan dan ingin mengakhirinya. Sialnya, ia tidak tahu cara mengakhiri hidupnya yang begitu-begitu saja. Tarno hanya bisa menjalaninya dengan berharap kalau suatu saat hidupnya akan berubah. Begitulah. Dan, seakan apa yang diharapkan oleh Tarno didengar Tuhan, beberapa hari kemudian dirinya mendapati kabar kalau dalam dua hari lagi pemerintah akan membuka lowongan pegawai negeri sipil. Pemerintah memastikan pula akan menerima kuota pegawai yang banyak. Mendengar itu lekas membuat Tarno—dan beberapa rekan guru honor lainnya—bahagia.

Advertisements