Cerpen Benny Arnas (Jawa Pos, 02 Desember 2018)

Gadis Kamarian, oh Gadis Kamarian ilustrasi Budiono - Jawa Pos.jpg
Gadis Kamarian, oh Gadis Kamarian ilustrasi Budiono/Jawa Pos

(Bagian 1)

MESKIPUN gelar doktor dari Universiteit Leiden hampir berada dalam genggamannya, gadis 29 tahun itu tetap harus putarkaki!

Ketika kecil dulu ia sering melihat calon mempelai perempuan yang melaksanakan tradisi itu. Yang terakhir adalah kakak perempuannya yang hendak dipersunting laki-laki yang tak lain tak bukan adalah tetangga mereka sendiri yang saat itu sudah menjadi pengusaha sukses di Jakarta. Kakaknya meletakkan kaki di atas ketiga permukaan tungku, satu-satu, lamat-lamat, penuh khidmat. Dapat ia rasakan kegugupan melingkupi diri calon mempelai perempuan itu. Ketika kakinya sampai pada akhir prosesi itu, meletakkan telapak kakinya di abu perapian yang sudah dingin, ketegangan itu seperti terbang menembus langit rumah. Telah sah ia diterima menjadi bagian dari keluarga laki-laki!

Baca juga: Lubuk-Lubuk Itu, di Lubuklinggau, Tuan Raudal – Cerpen Benny Arnas (Jawa Pos, 08 April 2018)

Ia juga ingat, bagaimana kakak iparnya harus menjadi salwir di perhelatan-perhelatan adat. Awalnya ia tentu menyangsikan suami kakak perempuannya yang terpandang itu akan benar-benar diperlakukan sebagai “pelayan” bagi ayah dan kakak laki-lakinya yang hanya seorang pekebun atau nelayan. Tapi, ketika dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan bagaimana laki-laki itu menuangkan sopi ke gelas-gelas kosong di tangan anggota keluarganya, ia menghela napas beberapa kali.

Oh, di Negeri Kamarian tercintaku ini, siapa pun, apa pun, dari mana pun, ketika masuk ke lingkungan adat, harus menjunjung bumi tempat ia berpijak, batinnya. Termasuk seorang pengusaha ternama yang menjadi salwir alias pelayan bagi ayah dan kakak-kakak iparnya yang lain karena status malamait, menantu laki-laki dalam adat Amalohy!

Advertisements