Cerpen Zainul Muttaqin (Suara Merdeka, 02 Desember 2018)

Bulan Menangis di Atas Nisan ilustrasi Suara Merdeka.jpg
Bulan Menangis di Atas Nisan ilustrasi Suara Merdeka 

Ia terus-menerus meremas tanah gundukan di hadapannya. Tak sedikit pun gadis itu menggeser posisi. Berjatuhan air matanya di atas pusara. Tubuh gadis itu gemetar saat mengusap berulang-ulang batu nisan itu. Orang-orang yang lewat di dekat pemakaman itu akan menggelengkan kepala sambil lalu mengumpat, “Dasar orang gila!”

Bulan nama gadis itu. Ia selalu terlihat di pusara orang tuanya sejak matahari baru merangkak di permukaan langit hingga tenggelam di ujung barat. Sepanjang hari Bulan menangis sampai mengering air matanya. Terguncang batin gadis delapan belas tahun itu. Tinggal seorang diri di bawah kaki Bukit Garincang, satu-satunya bukit di kampung itu.

Kehilangan telah mencekik hidup Bulan. Tidak ada cara lain bagi Bulan selain menunggui orang tuanya di pemakaman itu. Gadis itu tahu, tak mungkin orang tuanya merespons setiap pengaduannya. Setidaknya batin Bulan sambil terus mengeluarkan air mata, orang tuanya tahu anak gadis mereka sangat merindukan orang tua.

Baca juga: Laki-laki yang Datang dari Surga – Cerpen Zainul Muttaqin (Tribun Jabar, 07 Oktober 2018)

Ibu Bulan meninggal bukan tidak beralasan. Entah bagaimana segala macam penyakit tiba-tiba menyerang tubuh perempuan tua itu. Tentu itu terjadi setelah ia mendapat kabar suaminya tewas di ladang jagung. Leher suaminya digorok. Matanya melotot. Seseorang mengabarkan kematian mengerikan itu kepada Maimunah, ibu Bulan. Wajah orang itu pucat. Napasnya tersengal-sengal.

Maimunah tak percaya begitu saja. Ia malah tertawa terpingkal-pingkal. Tidak mungkin kematian suaminya tak wajar seperti itu. Toh setahu Maimunah tak pernah suaminya memiliki musuh. Tidak masuk akal bagi Maimunah suaminya dibunuh secara keji. Mendadak wajah Maimunah pucat setelah seseorang datang lagi mengabarkan hal yang sama; suaminya benar tewas di ladang jagung.

Advertisements