Cerpen Mashdar Zainal (Haluan, 02 Desember 2018)

Bekas Lipstik di Bibir Cangkir ilustrasi Istimewa.jpg
Bekas Lipstik di Bibir Cangkir ilustrasi Istimewa 

Barra masih termangu memandangi bekas lipstik di bibir cangkir porselen berwarna putih mengkilap—yang isinya masih separuh. Baru saja perempuan itu melenggang. Meninggalkannya seorang diri di kafe sepi tempat mereka biasa bertemu. Sambil mengumpat sesekali, Barra kembali menekuni kursi kosong yang tampak masih hangat di hadapannya. Rasa-rasanya, perempuan itu masih duduk di sana dengan gincu merah menyala, dengan racun yang baru saja tumpah dari mulutnya.

Barra tak pernah lupa bagaimana ia bertemu dengan si bibir merah itu. Mungkin sudah hampir satu tahun. Pada suatu malam yang membosankan, ketika Barra mengunjungi sebuah night club yang selalu menyuguhkan musik-musik jazz secara live. Di situlah pertama kali Barra melihat perempuan itu. Seorang penyanyi kafe dengan wajah mungil dan tubuh sintal. Barra menikmati lagu yang dinyanyikan perempuan itu, tapi Barra lebih menikmati bibir merah yang begitu bergairah menyanyikan tiap bait lagu. Usai perempuan itu manggung, Barra buru-buru mendekati.

“Saya baru lihat, Anda penyanyi baru, ya?” Barra memulai tanpa basa-basi.

“Iya,” perempuan itu menjawab malu-malu.

“Saya suka cara Anda menyanyi. Benar.. benar…”

“Ah, Anda terlalu memuji.”

“Benar, saya sampai merinding mendengarnya.”

“Begitukah?”

Baca juga: Lelaki yang Tubuhnya Habis Dimakan Ikan-Ikan Kecil – Cerpen Mashdar Zainal (Jawa Pos, 18 November 2018)

“Ya. Anda tampak berbakat.”

“Anda pandai sekali membuat orang tersanjung.”

“Saya hanya mengapresiasi.”

“Terima kasih kalau begitu.”

“Oh ya, kenalkan saya Barra!” Barra menjabatkan tangannya.

“Milly,” perempuan itu menyambut.

Advertisements