Cerpen M. Arie Hidayat (Banjarmasin Post, 02 Desember 2018)

Batas Suci ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Post.jpg
Batas Suci ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post

Sampai saat ini bapak itu terus saja memandangiku. Mungkin sudah sekitar tiga detik berlangsung semenjak aku duduk di kursi tamu yang terbuat dari ukiran jati ini. Sungguh sebuah suasana yang canggung, untungnya beliau tidak sambil mengepulkan asap di sini.

Kali ini dia tersenyum, kuharap akan keluar beberapa kalimat dari mulutnya. “Jadi… Pak Ardian bersedia ya menjadi marbot di mushala kita ini?”

“Iya. Insya Allah dengan ini saya bisa memberi makan istri saya, dan menjadi pemberat amal saya juga di akhirat. Sebab yang saya jaga dan pelihara ini adalah rumah Allah.”

“Yah, syukurlah kalau begitu, Pak. Sebab sudah lama kami mencari orang yang mau merawat mushala ini dengan upah seadanya. Mushala kita ini tidak memiliki banyak uang, selain dari hasil kotak infak yang ada di halaman mushala itu. Meskipun rumah saya berseberangan dengan mushala, saya tidak bisa merawatnya sambil kerja. Mungkin kepindahan bapak ke kampung kami, merupakan jawaban dari Allah atas doa kami selama ini,” tutur Pak Rayhan panjang lebar, seorang PNS pegawai puskesmas yang ditunjuk kepala desa sebagai kepala bagian kerohanian di kampung ini.

“Aamiin, insya Allah, Pak. Semoga saya termasuk orang yang amanah dan istiqomah,” jawabku pendek sambil mengangguk kecil.

“Sambil diicip Pak kuenya. Maaf ini, hanya sedikit. Saya ambilkan kunci mushalanya dulu ya, Pak.”

Pak Rayhan kemudian beranjak, masuk ke salah satu kamar. Tidak berapa lama, dia keluar dengan satu renceng kunci.

“Nah, ini kunci mushalanya, Pak. Boleh kalau Pak Ardian mau mulai bekerja sore ini, terserah Bapak saja,” kata Pak Rayhan seraya meletakkan kunci tersebut di meja.

Aku mengambil kunci itu. “Insya Allah, Pak. Akan saya lakukan yang terbaik.

***

Advertisements