Cerpen Lamia Putri Damayanti (Koran Tempo, 01-02 Desember 2018)

Kebun Binatang di Dasar Laut ilustrasi Koran Tempo
Kebun Binatang di Dasar Laut ilustrasi Koran Tempo 

Aku terobsesi ingin melihat koala sejak berusia tujuh tahun. Saat itu, aku menyaksikan koala pertama kalinya lewat kertas koran yang jadi pembungkus makanan kami-aku dan Ibu-malam itu; dua iris tempe dan sekepal nasi yang dimakan berdua. Awalnya, kupikir ia adalah seekor tupai karena sama-sama memanjat pohon. Kata Ibu, keduanya juga sama-sama mamalia. Meski begitu, koala memiliki telinga yang lebar dan bundar serta tubuh yang lebih bulat.

Kata Ibu, koala tidak tinggal di negara ini meski aku mencarinya ke hutan yang memiliki banyak pohon. Pada akhirnya, yang akan aku temui tetaplah tupai yang melompat dari satu dahan ke dahan lain, bukan koala yang memeluk batang pohon yang besar dan cokelat.

Kendati demikian, Ibu bilang: “Kau tetap bisa melihatnya di kebun binatang, suatu saat nanti.”

***

Baca juga: Di Jok Belakang Mobil – Cerpen Lamia Putri Damayanti (Koran Tempo, 02-03 September 2017)

Peristiwa beberapa tahun silam selalu berputar di otakku. Bak kaset rusak, ia bisa saja memutar kembali seluruh adegan. Kalau aku sedang bengong, misalnya, peristiwa itu bisa muncul lagi. Kadang-kadang menimbulkan rasa takut tapi lebih banyak tak ada rasanya sama sekali. Waktu itu, usiaku sepuluh, aku hanya bertanya pada mereka apa yang Ibu lakukan hari ini, tetapi mereka memukulku. Mereka benci anak-anak yang suka menangis dan merengek. Oleh sebab itu, mereka menamparku dua kali.

Padahal, aku enggak merengek seperti bayi. Aku hanya tanya, bagaimana kabar Ibu siang kemarin? Tak ada yang memberi jawaban dengan ucapan. Malahan, aku kena bogem lagi di pipi, punggung, dan perut. Bagi mereka, semua anak yang bertanya tentang ibu mereka dengan intonasi dan cara seperti apa pun: dianggap telah merengek.

Advertisements