Cerpen A Warits Rovi (Solo Pos, 25 November 2018)

Wanita Buta Peracik Jamu ilustrasi Solo Posw.jpg
Wanita Buta Peracik Jamu ilustrasi Solo Pos

Jalan menuju rumah kami tak ada papan nama, tapi kau jangan khawatir. Biarpun kau bertanya di ujung jalan kecamatan yang jaraknya sepuluh kilometer dari kampung kami, ketika kau sebut nama Mak Seya, orang akan menunjuk ke arah timur, masih melewati tiga desa, belok kiri ke sebuah turunan yang di kanan-kirinya berdinding batu,  lalu masuk ke arah barat, melewati jalan tak beraspal, ketika sampai di pohon randu besar, laluilah jalan setapak berkerikil ke utara, meliuk di antara banjar pohon rukam, menghunjam ke lereng sebuah bukit. Lalu kau akan sampai di depan rumah kecil yang terbuat dari gedek bambu, beratap rumbia dan halamannya dipenuhi lesung dan lumpang kayu serta beberapa gentong tanah di atas batu umpak warna hitam, sedang di sekeliling tepi halaman ada banyak tanaman, berbunga warna-warni.

Di rumah ini aku hidup dengan Mak Seya, wanita buta yang dikenal sebagai peracik jamu paling manjur di pulau Madura. Aku diambil jadi anak angkat olehya dari sejak masih bayi. Katanya, ibuku gila, ia melahirkanku di halaman rumah ini pada suatu subuh yang gerimis, lantas ibu pergi tiga hari kemudian. Dari cerita itu, aku tak perlu bertanya siapa ayahku, sebab itu sama artinya mencari laut dari jalan yang buntu.

Ketika ia mengambilku sebagai anak, Ki Madru, suaminya masih ada, aku diasuh berdua dengan suaminya hingga suaminya meninggal ketika aku berumur lima tahun. Sejak saat itu aku jadi pengganti suaminya, bertugas membantu Emak meracik jamu. Pekerjaan yang banyak kulakukan adalah melumat daun di atas batu, memerasnya ke dalam mangkuk atau gelas, atau kadang membakar akar dan kulit pohon di mulut tungku.

Sedang Mak Seya sendiri menumbuk kulit kayu di lesung kayu yang ada di halaman, atau menuang air kembang ke dalam setiap gentong, kadang sambil menembang atau bersyair. Di waktu senggang, aku kerap menguping tembang dan syair yang dilatunkan Emak, ia berkisah tentang kisah hidup masa kecil yang penuh dengan kesedihan. Biasanya air mata Emak leleh dari sudut matanya yang rapat tertutup, bibirnya melengkung ke bawah, menandakan ia tengah menangis. Tapi setelah ia lantunkan syair tentang Qudrat Allah, perlahan bibirnya merajut senyum, beriring jemari keriputnya menyeka air matanya berulang, lantas ia melanjutkan pekerjaannya.

Advertisements