Cerpen Ismul Farikhah (Suara Merdeka, 25 November 2018)

Matinya Guru ilustrasi Suara Merdeka
Matinya Guru ilustrasi Suara Merdeka 

BU Sulasih melontarkan pertanyaan, sebelum mengakhiri pelajaran kimia. “Siapa ingin menjadi guru?” Tak satu pun murid menjawab. Semua diam.

“Tak adakah yang ingin jadi guru? Menggantikan saya kelak ketika pensiun?” Bu Sulasih mengulang pertanyaan. Namun semua murid tetap diam.

“Mirna?”

“Tidak, Bu. Mirna tak ingin jadi guru.”

“Bayu?”

“Tidak, Bu. Jadi guru susah, murid nakal- nakal,” jawab Bayu. Sontak suasana kelas menjadi ramai. “Nyadhar ta kowe, nek muride kaya awakmu, gurune susah [1],” timpal murid lain.

“Dari satu kelas ini tak adakah yang ingin jadi guru?” ulang Bu Sulasih.

“Tidak!” Kali ini semua murid menjawab serempak.

Bu Sulasih kecewa dan sedih. Tidak inginkah anak-anak sekarang bercita-cita jadi guru? Bu Sulasih menutup pelajaran. Dengan hati sedih, dia meninggalkan kelas.

***

“Mau melanjutkan ke nama, Asih?” tanya Pak Santo kepada Sulasih yang saat itu bakal lulus dari SMA.

“Ilmu gizi, Pak.”

“Bagus. Tidak inginkah kamu jadi guru?” tanya Pak Santo lagi.

Sebenarnya sejak kecil Sulasih bercita-cita menjadi guru atau dokter. Itu cita-cita masa kanak- kanak. Namun, entah kenapa, semenjak duduk di bangku SMA, Sulasih tak ingin lagi jadi guru. Rasa-rasanya profesi guru kurang menarik lagi bagi dia. Menurut Sulasih, guru bukan profesi bergengsi.

“Menjadi guru memang tak memberikan kekayaan materi. Namun batin guru sangat kaya,” kata Pak Santo, seolah-olah tahu pikiran Sulasih. “Apa pun yang kamu pilih, lakukanlah sungguh-sungguh. Jika kelak pilihan kamu tidak tercapai dan kamu harus menghadapi kenyataan lain, lakukanlah dengan sungguh-sung- gun pula. Siapa tahu kamu jadi guru yang hebat.”

Nggih [2], Pak,” jawab Sulasih ketika Pak Santo hendak berlalu.

Advertisements