Cerpen Muna Masyari (Kedaulatan Rakyat, 25 November 2018)

Kemeja Batik ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Kemeja Batik ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat 

SUDAH sekian menit tatapannya masih berlompatan di atas hamparan kain batik berlatar cekelat pekat di hadapannya. Memerhatikan posisi tiga gambar burung yang berekor panjang dan paruh menganga, di antara lingkaran-lingkaran peta. Peta-peta itu berisi tangkai-tangkai bunga, garis-garis tikar, noktah bintang tabur, lengkung pelangi kecil-kecil bertindihan mirip sinyal Wifi, sisik-sisik ikan, kembang melati mekar.

Kemudian, tatapannya beralih pada gunung(an) di pinggir bawah. Puncaknya tidak sama tinggi dan palungnya tidak sama rendah. Lalu, melompat lagi pada burung paling tengah yang seharusnya berada di tengah punggung pada pola kemeja yang akan dipotong, namun posisi gambarnya justru tidak pas di tengah kain. Selain menyamping, posisi burung itu juga tidak selurus puncak gunung(an) atau di palungnya saja.

“Begini kalau pembatik tidak mengerti pemotongan pola baju!” rutuknya.

“Ada apa, menggerutu begitu?” suaminya yang baru pulang menarik becak, melirik sebentar.

Baca juga: Bulan Berdarah – Cerpen Muna Masyari (Jawa Pos, 05 Agustus 2018)

Tanpa menjawab ia kembali memeriksa catatan ukuran. Lingkar badan, 110 cm. Lebar Bahu, 16 cm. Panjang lengan 57 cm. Panjang kemeja, 73 cm. Sementara, panjang kain kurang dari 200 cm, karena setelah mengalami proses pembatikan, kain berkurang dari ukuran sebelumnya. Lebarnya pun tidak sampai 115 cm.

Kepalanya berdenyut. Otaknya semakin sibuk menimbang ketika suaminya datang mendekat.

Advertisements