Cerpen Agus Salim (Haluan, 25 November 2018)

Jatah Air Mata ilustrasi Istimewa
Jatah Air Mata ilustrasi Istimewa

Dulu, saya memiliki kebiasaan mendoakan ayah agar cepat mati. Durhaka? Tentu saja durhaka. Tapi, saya punya alasan kenapa sampai punya kebiasaan macam itu. Saya hanya ingin hidup ibu tenang. Tidak disakiti lagi. Tidak menumpahkan air mata lagi. Cukup masuk akal alasan saya, bukan?

Tapi, anehnya, meski sering didoakan mati, ayah tetap hidup sampai sekarang. Sampai usianya enam puluh lebih. Tetapi satu hal yang penting, ia sudah berubah. Tidak jahat lagi. Bicaranya sopan dan ibadahnya rajin. Malah ibu saya yang mati duluan. Jadi, karena sudah berubah, dan saya lupa kapan tepatnya ia mulai berubah, maka saya berhenti mendoakan ia mati. Malah saya mendoakan umurnya panjang. Biar bisa menyaksikan cucu-cucunya menikah kelak.

Baca juga: Musuh Bebuyutan – Cerpen Agus Salim (Media Indonesia, 14 Oktober 2018)

Dan, pagi ini, saya dikagetkan dering ponsel saat lagi khusyuk berzikir—saya memang biasa berzikir usai salat Subuh dan mengaji setelahnya. Saya segera mengangkatnya karena di layar ponsel tertulis nama ayah. Ia tak banyak bicara, dan hanya memberi perintah seperti ini: Hari ini kau harus ke rumah. Ya, itu saja. Saya melirik jam, ternyata masih jam lima, dan udara yang menyelinap dari ventilasi terasa dingin, dan itu membuat saya malas keluar rumah. Tapi, Rei, istri saya, yang tidak saya ketahui sejak kapan ada di kamar, tiba-tiba memberi nasihat seperti ini:

“Jangan malas begitu. Tak baik. Dia masih ayahmu.”

Advertisements