Cerpen Griven H Putera (Republika, 25 November 2018)

Hujan Terakhir ilustrasi Rendra Purnama - Republika.jpg
Hujan Terakhir ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

Hujan yang turun sejak tadi membuat lelaki 40-an tahun itu makin resah. “Entah mengapa air dari gumpalan awan di langit tak kunjung berhenti mengguyur bumi,” rutuk hatinya.

Ia sungguh marah dan kesal pada hujan siang itu. Padahal semasa kecil di kampung dahulu, hujanlah yang dirindukannya sepanjang waktu. Nyanyian hujanlah yang membuat kesunyian yang menyangkak kampung terobati. Bersama hujanlah ia menemukan segalanya. Dengan hujanlah ia menemukan semuanya. Pada saat hujanlah ia dapat menikmati seluruh dapat dan bisa. Dapat bermain bola bersama teman-teman di halaman mesjid. Dapat mandi lumpur. Bisa mendengar musik alam ketika menyentuh atap seng masjid atau menikam atap rumbia rumah neneknya. Bisa pula melihat pohon kelapa menari dengan lambaian daunnya yang liuk-gemulai karena dihem pas angin. Pokoknya hujan adalah sesuatu yang ditunggunya, sesuatu yang dirindukannya.

Akan tetapi, hujan siang selepas Jumat ini memang lain. Sungguh terasa lain dan asing. Ia ingin secepatnya hujan lekas berhenti. Ia ingin menemui anak bungsunya. Foto anak ketiganya baru ia bingkai. Ia ingin segera memperlihatkan pada anaknya itu, dan menggantung foto tersebut di dinding papan rumahnya. Ingin menggantungnya pada paku bekas tempat foto anak sulungnya yang meninggal beberapa tahun lalu. Foto anak sulungnya sudah lama ia copot dari paku itu karena tak tahan melihatnya. Saban kali matanya tertumbuk pada foto tesebut, saban kali pula air matanya berderai. Luka lamanya pun muda kembali. Ya, luka hatinya berdarah kembali.

Kini ia akan menggantung foto anak ketiganya di tempat itu. Ia ingin melihat begitu senang dan girang hati anak bungsunya tersebut. Ia ingin menikmati manisnya senyum anak bungsunya itu. Ia tak mau lagi punya pengalaman seperti masa lalu. Baru tiga hari dibelinya sepeda, anak sulungnya pun meninggal. Dan ketika sepeda itu sampai di depan anak perempuannya yang kelas satu SD tersebut, anak sulungnya itu tak dapat lagi tersenyum karena deraan sakit tifus yang menggerogoti tubuh mungilnya.

Padahal sepeda itu sudah ditunggu-tunggu anaknya tersebut sejak lama. Akhirnya sepeda itu hanya menjadi kenangan teramat pahit, yang kalau bisa, jangan terulang lagi. Sungguh jangan. Saban kali terkenang pada sepeda itu, saban itu pula sedih, perih dan pilu memenuhi relung jiwanya. Kesunyian kembali menyeruak dalam di hatinya. Tanpa sadar, air matanya tumpah lagi.

Advertisements