Cerpen Putri Lestari (Media Indonesia, 25 November 2018)

Dari Sebuah Lubang ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesiaw.jpg
Dari Sebuah Lubang ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia

TAN punya kebiasaan aneh: memeriksa lubang di setiap dinding yang ditemuinya. Sekalipun hanya ada kesunyian di balik dinding, sebuah lubang selalu membuat rasa penasarannya terdesak keluar.

Kebiasaan ini bermula saat Tan berumur 10 tahun. Ketika Mama tak lagi membacakan dongeng sebelum tidur untuk Tan, tetapi menyuruhnya menghitung domba dengan suara lantang. Mama juga berpesan agar Tan tak keluar kamar sebelum ada yang membangunkannya di pagi hari.

Malam itu, terlalu banyak domba yang melompat di kepala Tan. Batang tenggoroknya mulai kering, ia berhenti menghitung. Mata Tan mengerjap, mulutnya melumat-lumat agar air liurnya jadi banyak. Telinga Tan terbuka, mendengar kesunyian yang sesaat kemudian diganggu oleh suara berisik. Suara yang asalnya dari kamar sebelah, milik Mama-Papa.

Tan ingat larangan keluar kamar, tapi suara di sebelah sangat mengusik. Ia turun dari tempat tidur mengendap-endap, memutar kenop pintu perlahan, tapi pintu tak mau terbuka. Matanya mulai menyisir seluruh kamar, pandangannya tertumbuk pada lubang-lubang di dinding. Lubang itu menghubungkan kamarnya dengan kamar Mama-Papa.

Mama memang melarangnya keluar kamar, tapi tak pernah melarangnya melihat kamar orangtuanya. Sebuah kursi digeser pelan, tepat di bawah tiga lubang berformasi segitiga. Dari salah satu lubang yang paling bawah, Tan melihat apa yang terjadi di kamar orangtuanya. Mama dan Papa saling berpandang. Dia ingin menyapa, melambaikan tangan dan memasang senyum lebar seperti badut. Tetapi apa yang dilihatnya kemudian membuatnya terdiam. Papa menarik rambut Mama dan menghempaskannya ke lantai. Mama menangis sembari menutup mulutnya.

“Kita cerai saja! Bawa anak itu!” kata Mama sedikit berbisik.

“Tidak! Bawa saja dia!”

Tan melorot dari kursi. Ia mulai menutup kedua telinga dari apa pun yang Mama-Papa katakan.

***

Advertisements