Cerpen Ida Fitri (Koran Tempo, 24-25 November 2018)

Kitab Tipu Muslihat ilustrasi Koran Tempo.jpg
Kitab Tipu Muslihat ilustrasi Koran Tempo 

Yang hilang dari catatan para sejarawan terkemuka Kutaraja, yang gagal ditemukan Snouck Hurgronje—sekalipun dia telah bersusah payah untuk menyaru di dayah-dayah dengan menggunakan nama Abdul Ghaffar—yang bersampul dua puluh empat warna, yang beratnya harus diangkut seekor kerbau, sebuah kitab yang ingin kucatat ulang jika Tuhan menghendaki, dan hatiku tergerak untuk membocorkan sedikit isinya di sini.

Secara tak sengaja aku mengetahui rahasia kitab ini, dimulai dari keisengan guru pelajaran PMP—yang kemudian berubah menjadi pelajaran PPKN atau sekarang yang kamu kenal PKn—madrasah dulu yang senang mendongeng saat jam pelajaran berlangsung. Dan, karena itu, aku selalu menunggu-nunggu jam pelajaran PMP, sekali dalam seminggu, setiap hari Rabu. Ibeurahim, nama guru yang berpostur tinggi, berdada bidang, berhidung mancung, dan berkumis seperti penampilan laki-laki Kutaraja pada umumnya; kutaksir umurnya belum empat puluh pada saat itu dan kami memanggilnya Pak Beurahim.

Baca juga: Tuba – Cerpen Ida Fitri (Serambi Indonesia, 23 September 2018)

“Belanda itu tak punya tanah sebenarnya, mereka menjajah kita demi untuk menguasai kebun-kebun lada dan kebun-kebun pala. Setelah lada atau pala dipetik penduduk lembah, mereka mengambilnya kemudian menjualnya ke Eropa dengan keuntungan sangat tinggi. Karena itu, mereka memiliki banyak uang, uang yang dipakai untuk membeli tanah dari negara-negara di samping kerajaan untuk menimbun lautan. Lautan ditimbun terus-menerus dan jadilah dataran tempat mereka membangun rumah, kincir angin, kebun-kebun gandum, dan kebun-kebun bunga tulip,” ujar Pak Beurahim dalam sebuah dongengnya.

Advertisements