Cerpen Wahyu Christian Adi Setya (Minggu Pagi No. 34 Th 71 Minggu IV November 2018)

Kematian yang Bahagia ilustrasi Minggu Pagi.jpg
Kematian yang Bahagia ilustrasi Minggu Pagi 

Malam ini. Prosesi pemakaman yang tak biasa sedang terjadi di Boulevard. Sebuah prosesi pemakaman yang lebih mirip dengan resepsi pernikahan. Di mana sebuah panggung besar terpancang di atas deretan batu nisan. Dilengkapi dengan rangkaian meja berisi aneka makanan  dan minuman yang berjejer di bawah pohon Kamboja. Alunan musik dari berbagai genre pun ikut menggema memekakkan telinga. Barisan gadis SPG juga ikut diterjunkan sebagai penyambut tamu dengan dandanan yang menggoda. Hingga para peziarah pun tanpa ragu memasuki area pemakaman yang disulap menjadi tempat pesta.

Samuanya terlihat larut dengan canda tawa. Sama sekali tak ada rasa sesak di dada.

Sementara itu, di dalam liang lahat yang dilengkapi pendingin udara. Aslam begitu puas menikmati sayup-sayup kemeriahan yang ada di luar sana. Rona kebahagiaan pun tampak menghinggapinya, lantaran ia telah berhasil meruntuhkan mitos, bahwa kematian adalah peristiwa menyedihkan, bahwa area pemakaman adalah tempat menyeramkan.

Ia pun juga tak khawatir, bila malaikat mendadak datang untuk menginterogasinya. Karena sebelum mati, ia sudah mengikuti bimbingan belajar tentang tata cara menjawab pertanyaan yang diajukan oleh malaikat. Ia sangat yakin, akan menjawab semua pertanyaan itu dengan benar dan lulus dengan nilai sempurna. Tiket ke surga seperti sudah ada di dalam genggaman tangannya. Apalagi, lembaga bimbingan belajar yang diikutinya juga sudah memberi garansi: apabila tak lulus, nyawa bisa kembali.

Namun, setelah beberapa saat menanti. Malaikat tak kunjung marapat. Mata Aslam pun menjadi berat, lantaran diserang kantuk yang teramat sangat.

***

Advertisements